KARAKTERISTIK PENGERINGAN DUA SORTIMEN KAYU MERANTI MERAH (Shorea spp) ASAL P. BURU DALAM TANUR PENGERING KONVENSIONAL DENGAN MENGGUNAKAN DUA SKEDUL SUHU DAN KELEMBABAN
Eko Teguh Prasetyo , Ir. Y. Suranto, M. P.
2005 | Skripsi | S1 KEHUTANANPengeringan kayu sebagai suatu proses untuk mengeluarkan air dari dalam kayu sehingga kayu mempunyai kadar air yang sesuai dengan tujuan penggunaannya memang telah menjadi aspek utama dalam industri pengolahan kayu. Kesalahan pengeringan dalam tanur akan menimbulkan kerusakan pada kayu yang dapat diminimalkan dengan mengendalikan sOOu dan kelembaban. Pengendalian suhu dan kelembaban ini disusun dalam suatu skedul suhu dan kelembaban atau bagan pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh skedul suhu dan kelembaban serta sortimen kayu terhadap laju dan karakteristik pengeringan kayu meranti merah (Shorea spp) asal P. Burn. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa kayu meranti merah (Shorea spp) asal P. Burn, yaitu sortimen ABC dengan ketebalan 80 mrn dan sortimen Raamhout dengan ketebalan 48 mm. Analisis yang digunakan adalah one way anova dan uji-t. Penelitian ini dilaksanakan dengan memperbandingkan faktor skedul suhu dan kelembaban, yaitu Terazawa dan Rante Mario pada kedua sortimen tersebut. Parameter yang diukur adalah laju pengeringan, kadar air akhir, penyusutan dan cacat-cacat pengeringan (retak-ujung, retak-permukaan, retak-dalam, memangkuk, membusur, melekuk, dan mengintan). , Hasil pengamatan dan analisis menunjukkan bahwa skedul suhu & kelembaban Terazawaberbeda dengan skedul suhu & kelembabanRante Mario untuk sortimen ABC dalam hal pengamatan laju pengeringan, penyusutan tebal, dan jumlah retak ujung, sedangkan untuk sortimen Raamhout berbeda dalam hal pengamatan laju pengeringan, jumlah retak ujung, panjang retak ujung, retak terpanjang retak ujung, total panjang retak ujung, jumlah retak aalam, panjang retak dalam, dan retak terpanjang retak dalam. Penerapan skedul sOOu & kelembaban Terazawa terhadap sortimen ABC dan sortimen Raamhout mengakibatkan perbedaan dalam hal pengamatan laju pengeringan, penyusutan tebal, cacat memangkuk, panjang retak ujung, retak terpanjang retak ujung, total panjang retak ujung, dan jumlah retak pennukaan, sedangkan penerapan skedul suhu & kelembaban Rante Mario terhadap sortimen ABC dan sortimen Raamhout mengakibatkan perbedaan dalam hal pengamatan laju pengeringan, kadar air akhir, cacat membusur,
Kata Kunci : karakteristik pengeringan, laju pengeringan, sortimen, tanur pengering konvensional, skedul suhu dan kelembaban, kayu meranti merah