Laporkan Masalah

Pemetaan Desa di Kelurahan Gunungketur dan Pakualaman, Kecamatan Pakualaman, Yogyakarta

SEPTIANA TRI WIBOWO, Warsini Handayani, S.Si., M.Sc

2021 | Tugas Akhir | D3 PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI

Kebijakan Satu Peta (KSP) ditetapkan oleh pemerintah sebagai wujud penyelenggaraan. Informasi Geospasial (IG) salah satunya yaitu peta desa. Hingga tahun 2017 baru 14,5% dari keseluruhan desa di Indonesia yang telah dipetakan batas administrasinya. Kecamatan Pakualaman merupakan salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dengan potensi yang besar tetapi belum memiliki peta desa yang bisa digunakan untuk membantu manajemen desa. Tujuan dari penelitian ini yaitu memetakan desa di Kecamatan Pakualaman dengan interpretasi citra penginderaan jauh dan survei partisipatif serta menyusun peta desa dengan tampilan digital pada story maps. Citra satelit resolusi tinggi (CSRT) merupakan bahan utama dalam interpretasi unsur peta desa yang ditampilkan seperti jaringan jalan, jaringan sungai, dan sarana prasarana. Pembuatan peta desa dilengkapi dengan survei partisipatif untuk memetakan batas administrasi dan melengkapi informasi yang akan ditampilkan seperti nama jalan, nama sungai, validasi batas administrasi, sarana prasarana dan lain sebagainya. Untuk mengetahui akurasi dari interpretasi dilakukan survei lapangan dengan metode stratified random sampling. Layout peta terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu peta citra, penggunaan lahan dan sarana prasarana. Peta desa disusun pula menjadi WebGIS melalui ArcGIS online. Hasil dari penelitian ini yaitu peta desa Kelurahan Gunungketur dan Purwokinanti yang terbagi berdasarkan isinya yaitu peta citra, peta sarana prasarana, peta penggunaan lahan dan WebGIS peta desa di Kecamatan Pakualaman pada Story Maps. Peta desa yang dihasilkan diharapkan dapat membantu pemerintah setempat dalam mengatur wilayahnya, selain itu pembuatan peta digital mempermudah penggunaan peta dan dirasa lebih fleksibel karena dapat digunakan kapan dan dimana saja selama tersedia jaringan internet.

One Map Policy (OMP) was established by Government as Geospatial Information (GI) implementation, including village map. Until 2017 only 14.5% of all Indonesian villages had mapped administrative boundaries. Pakualaman District is one of the areas with a high population density and great potential but does not yet have a village map as a village management basis. The purpose of this study is to map villages in Pakualaman District by interpreting remote sensing images and participatory surveys as well as compiling village maps with digital displays on story maps. High-resolution satellite imagery (CSRT) is the main data in interpreting village map elements ,such as road networks, river networks, and infrastructure. Participatory mapping was done to map administrative boundaries and complete map information such as street names, river names, and infrastructures. The accuracy of the map was assessed by a field surveyusing the stratified random sampling method. The village map was divided into 3 (three) layouts: image maps, land use map, and infrastructure map. The village maps are also compiled and published into WebGIS via ArcGIS online. The results of this study are village maps of Gunungketur and Purwokinanti Villages which are divided based on their contents, namely image maps, infrastructure maps, land use maps and WebGIS village maps in Pakualaman District on Story Maps. The resulting village map can help local governments regulate their territory. Besides, making digital map makes it easier to access and feels more flexible because they can be used anytime and anywhere as long as an internet network is available.

Kata Kunci : Peta Desa, Pemetaan Partisipatif, Pakualaman, Story Maps

  1. D3-2018-431835-abstract.pdf  
  2. D3-2018-431835-bibliography.pdf  
  3. D3-2018-431835-tableofcontent.pdf  
  4. D3-2018-431835-title.pdf  
  5. D3-2021-431835-abstract.pdf  
  6. D3-2021-431835-bibliography.pdf  
  7. D3-2021-431835-tableofcontent.pdf  
  8. D3-2021-431835-title.pdf