EVALUASI SISTEM AGROFORESTRI PADA PROGRAM PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM) ( Studi Kasus di Desa Cileuya, Kecamatan Cimahi, Kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat )
ANTON APRIANTO , Dr. Ir. Moch. Sambas Sabarnurdin, M.Sc.
2004 | Skripsi | S1 KEHUTANANProgram Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) merupakan sistem pengelolaan hutan antara Perhutani dengan masyarakat dan pihak-pihak berkepentingan (stakelwlders) dengan jiwa berbagi sehingga keberlanjutan fungsi dan manfaat sumber daya hutan dapat diwujudkan secara optimal dan proporsional. Pendekatan PHBM berbasis lahan sering diwujudkan dalam pola tanam yang mengikuti pola usaha agroforestri. Keberhasilan pelaksaanaan sistem agroforestri berperan penting dalam menunjang keberhasilan pogram PHBM. Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui karakteristik sistem agroforestri dari sisi struktur dan komposisi komponen penyusunnya, (2) Mengetahui tingkat keberhasilan sistem agroforestri pada program PHBM, dan (3) menginventarisasi peluang dan tantangan pengembangansistemagroforestri pogram PHBM. Penelitianini dilaksanakan di Desa Cileuya yang merupakan lokasi pilot project PHBM di Kabupaten Kuningan. Metode penelitian meliputi (1) Pendekatan partisipatif, dengan pengisiankueisioner dan wawancara kepada penggarap laban, (2) Pengukurandanobservasi di lapangan, dengan membuat plot pengamatan guna mencatat informasi berkenaan dengan parameter biologi dan sosial di lapangan. Pemilihan responden dan laban garapan menggunakan purposive random sampling. Untuk analisis datanya digunakan (1) Analisis Deskriptif, (2) Analisis Multikriteria (AMI<) dengan terlebih dahulu menyusun perangkat kriteria dan indikator (K&I), dan (3) Analisis KELAPA (SWOT). Dari pengamatan di lapangan diketahui bahwa pada umunya komponen agroforestri PHBM Cileuya membentuk alternate strips-rows (sistem jalur berselang) dengan strata yang merata. Perbedaannya lebih pada jenis dan jumlah tanaman pertanianyangdiusahakanterutama tanaman palawijayaitu padi,jagung,dansingkong. Hasil Analisis Multikriteria dari sejumlah perangkat kriteria dan indikator yang disusun diperoleh nilai baik sebesar 0,6 dan nilai bu;ruk 0,4. Nilai baik lebih besar daripada nilai buruk menunjukkan bahwa sistem agroforestri berhasil dilaksanakan di lapangan. Nilai buruk 0,4 ini merupakan cerminan dati kurang berhasilnya tanaman tepi dan/atau pengisi, kurang efisiennya input tanaman pertanian, kurangnya tanaman penyubur tanah, dan sebagainya. Pada tahun ke-4 pelaksanaan agroforestri, masyarakat mulai berkonsentrasi pada tanaman tahunan daripada tanaman palawija yang sudah dianggap tidak optimal untuk diusahakan. Peluang dalam pengembangan model agroforestri tersebut diantaranya : adanya pasar, investor, dukungan dana, dukungan riset, dan sebagainya. Sedangkan untuk tantangannya diantaranya : pencurian jati, basil panen yang butuh waktu lama, konflik batas desa hutan, dan tidak konsistennya pelaksanaan PHBM dilapangan.
Kata Kunci : PHBM, Agroforestri, Evaluasi, Analisis MUltikriteri