ANALISIS WACANA KRITIS PEMBERITAAN BOM SURABAYA DI TIGA STASIUN TELEVISI (TVONE, METRO TV, DAN KOMPAS TV)
DWI KORINA RELAWATI, Prof Faruk
2021 | Disertasi | DOKTOR KAJIAN BUDAYA DAN MEDIASebagai konstruksi realitas, berita dipandang bukanlah sesuatu yang netral. Hal ini memperlihatkan bahwa media di tengah realitas sosial dihadapkan pada berbagai kepentingan, terutama dalam hal isu-isu sensitif seperti isu terorisme. Fokus penelitian ini pada pemberitaan terorisme di tiga media televisi yaitu TVOne, Metro TV, dan KompasTV selama tahun 2014-2018. Penelitian initermasuk jenis kualitatif, menggunakan metode Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis/ CDA) Norman Fairclough (2006), Teknik pengumpulan data adalah purposive sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini dibagi ke dalam tiga tahap yaitu tahap mikro (teks), tahap meso (praktek kewacanaan), dan tahap makro (praktik sosial budaya). Dalam pada itu, praktik wacana pemberitaan terorisme ditemukan dalam interpretasi teks berdasarkan konteks situasional pemberitaan bom Surabaya. dengan melihat permukaan ungkapan (Surface Of Utterance), Makna Ungkapan (Meaning Of Utterance); dan Koherensi Lokal (Local Coherence). Secara institusional, pemberitaan bom Surabaya tidak dilepaskan dari motif pemilik dan visi misi yang diusung oleh ketiga televisi. Sedangkan praktik sosio kultural (makro) pemberitaan terorisme bom bunuh diri Surabaya tidak terlepas dari situasi nasional dan internasional. TVOne menampilkan peristiwa bom Surabaya sebagai tindakan yang didorong oleh pemahaman keagamaan pelakunya, dimana pelaku memiliki pemahaman keagamaan yang keras atau radikal. Pelaku meyakini bahwa aksi pengeboman gereja yang dilakukan adalah tindakan yang benar sesuai dengan keyakinan agamanya. Berbeda dengan TVONE, MetroTV dalam membuat breaking news menggambarkan tindakan pelaku bom Surabaya sebagai tindakan yang merusak tatanan bernegara. Tindakan pelaku juga digambarkan sebagai kegagalan negara dalam menciptakan keamanan. MetroTV dalam menggambarkan peristiwa bom bunuh diri tersebut sebagai kegagalan negara dalam melaksanakan program deradikalisasi. Sementara itu KompasTV menggambarkan peristiwa bom Surabaya sebagai tindakan biadab yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Tindakan pelaku dalam melakukan pengeboman digambarkan sebagai tindakan yang tidak manusiawi, biadab dan kejam.
As a construction of reality, news is not seen as neutral. This shows that the media in the midst of social reality is faced with various interests, especially in terms of sensitive issues such as the issue of terrorism.The focus of this research is on the reporting of terrorism in three television media, namely TVOne, Metro TV, and KompasTV during 2014-2018. This research is a qualitative type, using the method of Critical Discourse Analysis (CDA) Norman Fairclough (2006), the data collection technique is purposive sampling. Data collection in this study was divided into three stages, namely the micro stage (text), the meso stage (discourse practice), and the macro stage (socio-cultural practice). Meanwhile, the discourse practice of reporting on terrorism is found in the interpretation of the text based on the situational context of the news about the Surabaya bombing. by looking at the surface of the expression (Surface Of Utterance), the Meaning of the Expression (Meaning Of Utterance); and Local Coherence. Institutionally, the news about the Surabaya bombing could not be separated from the motives of the owners and the vision and mission carried by the three televisions. Meanwhile, the socio-cultural (macro) practice of reporting on terrorism in the Surabaya suicide bombing cannot be separated from the national and international situation. TVOne presents the Surabaya bombing as an action driven by the religious understanding of the perpetrator, where the perpetrator has a hard or radical religious understanding. The perpetrator believed that the church bombing that was carried out was the right act in accordance with his religious beliefs. In contrast to TVONE, MetroTV in making breaking news described the Surabaya bombers' actions as damaging the state structure. The perpetrator's actions are also described as the failure of the state to create security. MetroTV in describing the suicide bombing as the failure of the state in implementing its deradicalisation program. Meanwhile KompasTV described the Surabaya bombing as a barbaric act that was against human values. The perpetrator's actions in carrying out the bombings were described as inhuman, barbaric and cruel.
Kata Kunci : Breaking News, Bomb Surabaya, Terrorism, Television, Norman Fairclough