FENOMENA KOMODIFIKASI AUTISME DI KOTA MEDAN
HELEN PUTRIANA SARI, Danang Arif Darmawan, S.Sos., M.Si.
2022 | Tesis | MAGISTER PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANStudi ini berisi penelusuran mengenai kondisi sosial yang melatar belakangi munculnya fenomena komodifikasi autisme di Kota Medan. Sebagai salah satu dari empat pusat pertumbuhan utama di Indonesia, dengan luas wilayah 265.10 km² atau sekitar 3.6% saja dari keseluruhan wilayah Sumatra Utara, Kota Medan ternyata dihuni sebanyak 2.011 jiwa penyandang disabilitas, yang termasuk di antaranya adalah para individu autistik. Oleh masyarakat Kota Medan, autisme sendiri kerap diasosiasikan dengan suatu etnis maupun kelompok sosio-ekonomi tertentu. Hal tersebut disinyalir sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya komodifikasi autisme di kota ini, selain daripada wacana normalitas yang sudah lebih dulu mengakar di masyarakat. Berdasarkan hasil analisis temuan lapangan, dengan menggunakan pendekatan kapabilitas milik Amartya Sen (1984), peneliti dihadapkan pada kenyataan bahwa kualitas hidup para individu autistik di Kota Medan tidak lantas semakin membaik, meskipun jumlah penyedia layanan intervensi autisme di kota ini semakin bertambah setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan eksploitasi terhadap kondisi autisme, yang membuka peluang pada terjadinya komodifikasi terhadap kebutuhan-kebutuhan individu autistik. Maka dari itu peneliti mengajukan wacana neurodiversity untuk diperkenalkan secara lebih luas sehingga dapat membingkai kembali makna normalitas di masyarakat, serta menjadi antidote bagi fenomena komodifikasi yang tengah berlangsung.
This study contains a search on the social conditions behind the emergence of the phenomenon of commodifying autism in Medan. As one of the four main growth centers in Indonesia, with an area of 265.10 km² or about 3.6% of the total area of North Sumatra, Medan is in fact inhabited by 2,011 people with disabilities, which includes autistic individuals. By the people of Medan, autism itself is often associated with a certain ethnicity and socio-economic group. This is allegedly one of the factors causing the commodification of autism in this city, apart from the normality discourse that has already taken root in society. Based on the results from the analysis of field findings, using Amartya Sen's (1984) capability approach, researcher is faced with the fact that the quality of life of autistic individuals in Medan, is not necessarily getting better regardless of increasing number of the autism intervention service providers in this city each year. This shows that there is a tendency of exploitation to autism condition, which opens up opportunities for commodifying the needs of autistic individuals. Therefore, the researcher proposes the neurodiversity discourse to be introduced more broadly so that it can reframe the meaning of normality in society, and also become the antidote to the ongoing phenomenon of commodification.
Kata Kunci : autism, autistic, commodification, phenomenon of commodification, commodifying autism, capability approach, medan city