Dunia Belum Berakhir: Kisah Empat Mahasiswi yang Mengalami KTD dan Mengakses Aborsi
MEIVY ANDRIANI L, Dr. Suzie Handajani, M.A.
2021 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYASelama ini narasi umum tentang Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD) dan aborsi sering dibingkai secara sensasional di media massa. Implikasinya adalah permasalahan KTD dan aborsi kerap dilihat sebagai hal yang hitam putih dan tidak memiliki kompleksitas. Pembingkaian seperti ini menihilkan narasi aborsi dari perempuan yang mengalami KTD dan aborsi itu sendiri. Maka dari itu, penelitian ini berusaha untuk menjawab sebuah pertanyaan penting: bagaimana perempuan-perempuan yang mengakses aborsi dapat bertahan secara emosional pasca tindakan aborsi? Penelitian ini berupaya untuk mempelajari pengalaman dan pemaknaan perempuan muda lajang yang mengalami KTD akibat hubungan seks konsensual terhadap aborsi yang mereka akses. Dengan menggunakan teori agensi dan metode wawancara mendalam, penelitian ini berusaha untuk melihat tarik ulur terhadap struktur yang membentuk pengalaman mereka sebagai perempuan. Akhirnya, banyaknya stigma dan hal buruk yang dapat terjadi jika KTD mereka diketahui oleh banyak orang membentuk prinsip yang memandu tindakan mereka selama dan setelah KTD, yakni kerahasiaan. Perempuan terus merasakan stigma dan membutuhkan dukungan sosial. Tidak seperti yang biasanya dinarasikan tentang aborsi, hampir semua perempuan dalam penelitian ini dapat melanjutkan hidup masing-masing dengan mudah. Hal ini dapat dicapai jika mereka merasa berdaya terhadap keputusan aborsi mereka serta mendapatkan dukungan sosial yang menyokong otonomi. Penelitian ini menunjukkan pentingnya memberikan kesempatan bagi perempuan yang mengalami KTD untuk menentukan pilihan hidup mereka, serta kesempatan untuk memproses pengalaman KTD dan aborsi guna menciptakan narasi aborsi yang lain.
The narrative about unintended pregnancies and abortion is often framed sensationally in mass media. As the implication of such sensational narrative, unintended pregnancy and abortion are often seen as a black-and-white phenomenon with no complexity. Such framing negates abortion narrative from the perspective of women who experienced unintended pregnancies and abortions. Thus, this research attempts to answer an important question: how do women who accessed abortion try to survive emotionally after their abortions? This research attempts to study single young women's experience of unintended pregnancies that happen due to consensual sex and their interpretation of abortion. Using agency as a theoretical framework and in-depth interview as a method, this research tries to see how informants negotiate with structure that shapes their experience as women. Due to stigma and other consequences that commonly follow the disclosure of unintended pregnancies, the guiding principle during and after unintended pregnancies is secrecy. Women continually feel abortion stigma and need social support. Unlike the mainstream abortion narrative, almost all informants show that they can continue their lives after abortion seamlessly. This is achieved if they feel empowered by their abortion decision and received sufficient social support for their autonomy. This research shows the importance of opportunities for women who experienced unintended pregnancies to be in charge of their lives and to process their pregnancy and abortion experiences in order to create other kinds of abortion narratives.
Kata Kunci : kehamilan tidak dikehendaki, KTD, aborsi, agensi, seksualitas