Pergeseran Stigmatisasi terhadap Mahasiswa Papua dalam Tinjauan Teori Tindakan Komunikatif Jurgen Habermas (Studi Kasus Naratif: Asrama Teluk Bintuni, Kampung Tambakbayan, Yogyakarta)
EFRAIM ALEXANDER R R, Prof. Dr. Susetiawan, S.U.
2021 | Tesis | MAGISTER PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANKebutuhan akan pendidikan menjadi salah satu alasan orang Papua bermigrasi ke Yogyakarta. Pola migrasi ini pun sudah lama terbentuk. Isu tentang stigmatisasi mahasiswa Papua di Yogyakarta menjadi sebuah permasalahan sosial yang timbul akibat migrasi ini. Akhirnya, terjadi banyak gesekan sosial di antara mahasiswa Papua dan masyarakat lokal. Namun, penelitian ini meletakkan mahasiswa Papua sebagai kelompok sosial yang berhasil terintegrasi dengan masyarakat lokal, seperti yang terjadi pada mahasiswa asrama Teluk Bintuni di Kampung Tambakbayan. Penelitian ini membahas bagaimana proses penerimaan dapat terjadi di antara mahasiswa asrama Teluk Bintuni dan kampung Tambakbayan, sehingga dapat menggeser stigmatisasi terhadap mahasiswa Papua dan mencapai integrasi diantara keduanya. Kasus ini dikaji menggunakan teori Tindakan Komunikatif oleh Jurgen Habermas sebagai konseptual teoritik dengan menggunakan metode penelitian kualitatif serta melalui pendekatan studi kasus naratif. Penelitian ini menemukan bahwa konflik sosial dapat terjadi karena tidak ada tindakan komunikatif. Integrasi antara mahasiswa asrama Teluk Bintuni dan masyarakat lokal kampung Tambakbayan terjadi karena ada tindakan komunikatif yang dibangun di antara keduanya. Namun dalam perspektif Jurgen Habermas, tindakan komunikatif hanya dapat terjadi pada masyarakat egalitarian. Tetapi pada kasus mahasiswa asrama Teluk Bintuni dan masyakat kampung Tambakbayan, tindakan komunikatif justru terjadi pada masyarakat yang hirarkis atas peran kepemimpinan yang inklusif.
The need for education becomes one of the reasons Papua citizens migrating to Yogyakarta. This migration pattern has been formed for such a long time. The issue regarding Papuan student stigmatization in Yogyakarta becomes a social problem that emerged due to this migration. To this, there are many social clashes between Papua students and the local residents. However, this research locates Papuan students as a social group that successfully integrates with the local residents, as happening in Teluk Bintuni student boarding house members in Kampung Tambakbayan who can shift the stigmatization towards Papuan students. They can reach an integration agreement between both parties. This case is examined by employing the communicative behaviour approach by Jurgen Habermas as a theoretical concept using a qualitative research method approach and a narrative case study approach. This research finds that social conflict can happen because there is no communicative action. The integration of students from Teluk Bintuni boarding house and local residents of Tambakbayan occur due to communicative action establishment between both parties. However, in Jurgen Habermas's perspective, communicative action can only happen in an egalitarian community. Contrastingly, in the case of Teluk Bintuni boarding house students and local residents of Tambakbayan, communicative action occurs in the hierarchical society with an inclusive leadership role.
Kata Kunci : stigma, mahasiwa papua, tindakan komunikatif, integrasi