Laporkan Masalah

The Dynamic of Islamic politcal ideas in Indonesia around the new order administration :: Substantialist and formalist

HALIM, Fachrizal Azmi, Prof.Dr. Mohtar Mas'oed

2002 | Tesis | S2 Ilmu Perbandingan Agama

Islam adalah corak kebudayaan dan merupakan simbol yang penting dalam perjuangan poliuk sejak zaman kolonial hingga saat sekarang ini. Pemikiran politik Islam di Indonesia dapat dikatakan berkembang sangat dinamis. Hal tersebut dapat dilihat dari respon-respon yang diberikan umat Islam terhadap perubahan- perubahan yang terjadi di negara ini. Politik Islam yang pada masa 1950-an bersifat antagonis dengan negara berkembang menjadi lebih harmonis dalam beberapa dekade setelah itu karena adanya perubahan basis sosial dan pemiktran umat Islam. Politik Islam kemudian berkembang ke arah yang lebih bersifat substantif sebab hanya dengan pdihan itu umat Islam dapat berpartisipasi dalam kehidupan bernegara secara luas. Namun ketika situasi politik 1 Indonesia telah berubah dan kebebasan berpartisipasi dan menyalurkan aspirasi telah dijamin oleh undang-undang, maka politik Islam pun berubah pula. IkLim kebebasan telah memungkinkan umat Islam untuk mengembangkan eksperimen pemikiran yang tidak murni bersifat substantif, melainkan menggunakan simbol dan idiom serta cita-cita pemberlakuan syari'at Islam secara formal. Umat Islam di Indonesia secara keseluruhan pada ghannya kini menghadapi tarik-menarik antara pemikiran politik Islam yang lebih mementingkan substansi atau nilai-nilai Islam dan pemikiran politik yang mengutamakan berlakunya cita-cita Islam secara formal. Adanya tarik-menarik antara pemikiran substansialis dan formalis kini merupakan ujian yang berat bag proses demokratisasi di Indonesia. Umat Islam kembah dihadapkan pada tantangan bagamana memperjuangkan nil&-dai Islam dalam kontreks bernegara dan masyarakat Indonesia yang plural.

Indonesia is a country with the Muslim population as the majority. Islam is a face that cannot be separated from the history of Indonesia as a whole. Even so the Islamic political role within the state is a problem that distresses Muslims. Islamic politics is always labelled as a strange ideology that contradicts with Pancasila. As a result, Muslims was marginalized and their idea defeated. The political change from the Old Order to the New Order resulted in a change of the social basis of the Muslim. Of course this implies the change of Islamic political orientation. The antagonistic relationship between Islam and the state became more. harmonic with the New Order. At the &. same time, some Muslims had the chance to become part of the bureaucracy because of their successful on education. However some other Muslims still remained on the fringe. They could not articulate their views as mother entity of Islamic politics. The collapse of the New Order is good chance for all Muslim-entities to articulate their visions formally. The problem for Muslims right now is how can they understand the relationship between themselves and between others as a majority in the plural nation of Indonesia.

Kata Kunci : Islam,Politik Islam,Demokratisasi, Islamic Pohticj, Demomy, New Order udministrafio


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.