Laporkan Masalah

Beur Cinema: Melantangkan Suara Subaltern Imigran Sinema Prancis

WULAN TRI ASTUTI, Prof. Dr. Faruk; Dr. Budi Irawanto

2021 | Disertasi | DOKTOR KAJIAN BUDAYA DAN MEDIA

Penelitian ini bertujuan untuk melengkapi kekurangan dari studi tentang film Prancis yang mengangkat tema imigran yang cenderung melihat kaum imigran sebagai objek yang dianggap selalu menimbulkan masalah dan menyelesaikan konfliknya dengan kekerasan. Tulisan ini secara khusus mendiskusikan tentang negosiasi identitas kultural kaum imigran yang ditampilkan dalam film Prancis yang masuk dalam genre baru, yakni beur cinema khususnya dalam film Fatima (2015), Qu'est-ce qu'on a fait au bon dieu? (2014), dan Samba (2014). Konsep subaltern dari Gayatri Spivak akan dijadikan pijakan sebagai teori untuk membantu menjelaskan bagaimana beur menyuarakan persoalan mereka bersamaan dengan konsep multikulturalisme dan pascakolonial agar dapat menjawab pertanyaan tentang bagaimana negosiasi identitas kultural komunitas beur ditampilkan dalam film Prancis dan bagaimana beur cinema merepresentasikan cara kaum beur dalam mengatasi hambatan serta menemukan solusi permasalahan mereka menggunakan modal-modal yang dimiliki seperti yang diteorikan oleh Bourdieu. Kedua pertanyaan tersebut tidak hanya menjelaskan pola hubungan antara budaya dan latar belakang negara asal imigran, tetapi juga menjelaskan integrasi imigran yang digambarkan di dalam film beur cinema. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai subjek pascakolonial yang terdekolonisasi, kehadiran kaum beur yang bersuara melalui beur cinema di Prancis menjadi lebih terlihat daripada kelompok lain. Komunitas beur berkontribusi dan beradaptasi dengan masyarakat Prancis melalui ranah yang luput dari sorotan media, yaitu di area domestik, di dalam rumah orang Prancis sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak-anak mereka. Komunitas beur juga berada di ranah di balik layar gemerlapnya dunia kuliner di Prancis, merekalah yang menjadi penyangga utama kesuksesan di area persiapan dapur. Mereka bukanlah sumber masalah, film beur melantangkan hal ini, menyuarakan bahwa jikapun ada hambatan maka mereka akan mencari solusinya tanpa menimbulkan kerusakan dan tidak melalui jalan kekerasan.

This study aims to fill the gaps of the study of French films with the theme of immigrants who tend to see immigrants as objects who are considered to always cause problems and resolve conflicts with violence. This paper specifically discusses the negotiation of the cultural identity of immigrants who are featured in French films that are included in a new genre, namely beur cinema, especially in the film Fatima (2015), Qu'est-ce qu'on a fait au bon dieu? (2014), and Samba (2014). Gayatri Spivak's subaltern concept will be used as a basis as a theory to help explain how the beur voice their problems together with the concepts of multiculturalism and postcolonial in order to answer the question of how the negotiation of cultural identity of the beur community is shown in French films and how beur cinema represents the way of the beur in overcoming obstacles. and find solutions to their problems using the capital they have as theorized by Bourdieu. The two questions not only explain the pattern of the relationship between the culture and background of the immigrant country of origin, but also explain the integration of immigrants depicted in the beur cinema. The conclusion of this study is that as a postcolonial subject who was decolonized, the presence of the beur who spoke through beur cinema in France became more visible than other groups. The beur community contributes and adapts to French society through areas that escape the media's attention, namely in the domestic area, in French people's homes as housekeepers and caregivers for their children. The beur community is also behind the glittering scene of the culinary world in France, they are the main pillars of success in the kitchen preparation area. They are not the source of the problem, the film beur makes this clear, voicing that even if there are obstacles, they will find a solution without causing damage and not through violence.

Kata Kunci : beur, beur cinema, subaltern, multikulturalisme, negosiasi identitas kultural

  1. S3-2021-405482-title.pdf