Perkembangan Kegiatan Wisata Alam Top Selfie Pinusan Kragilan Di Zona Tradisional Taman Nasional Gunung Merbabu
SIGID PAMBUDI, Dr. Ir. Dwita Hadi Rahmi, M.A.
2021 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAPariwisata alam dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan menjadi salah satu sektor unggulan nasional. Salah satu bentuk pengelolaan wisata alam adalah wisata alam Top Selfie Pinusan Kragilan (TSPK) yang berada di zona tradisional Taman Nasional Gunung Merbabu. Wisata alam TSPK merupakan bentuk pengelolaan wisata berbasis masyarakat yang pada awalnya merupakan kegiatan wisata alam tidak berizin di dalam kawasan hutan. Perjanjian Kerja Sama pengelolaan wisata alam terbatas TSPK antara Balai Taman Nasional Gunung Merbabu dan Kelompok Sadar Wisata TSPK menjadi wajah baru pengelolaan TSPK dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di Dusun Kragilan serta menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perkembangan kegiatan wisata alam TSPK dan mengkaji peran stakeholder dalam perkembangannya. Metode dalam penelitian ini adalah deduktif-kualitatif. Perkembangan kegiatan wisata alam diukur menggunakan variabel sistem pariwisata dan kelembagaan pariwisata yang dianalisis menggunakan teori siklus wisata Butler (1980). Penilaian stakeholder merujuk pada variabel pengaruh dan kepentingan yang dikemukakan oleh Reed et.al (2009). Hasil penelitian ini menunjukkan jika wisata alam TSPK telah mencapai 4 tahap perkembangan wisata, yaitu tahap eksplorasi, keterlibatan, pembangunan dan konsolidasi. Perkembangan kegiatan wisata alam TSPK dipengaruhi oleh peran kelompok masyarakat di setiap tahap perkembangan. Peran kelompok masyarakat dalam kegiatan wisata alam TSPK adalah pengambil keputusan, fasilitator,koordinator, akseletarator dan implementer. Masyarakat menyadari faktor keunikan atraksi wisata, memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan membangunnya menurut sudut pandang mereka sendiri. Keterlibatan kelompok pemerintah baru terjadi setelah wisata alam TSPK mulai ramai dikunjungi oleh wisatawan. Keterlambatan keterlibatan kelompok pemerintah mempengaruhi kurang maksimalnya manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya kegiatan wisata alam TSPK.
Nature tourism can improve the community's economy and become one of the leading national sectors. One form of natural tourism management is nature tourism Top Selfie Pinusan Kragilan (TSPK) which is located in the traditional zone of Gunung Merbabu National Park. TSPK nature tourism is a form of community-based tourism management that was originally an unlicensed nature tourism activity in a forest area. The Cooperation Agreement for the management of TSPK limited nature tourism between the Gunung Merbabu National Park Office and the Pokdarwis TSPK is a new face for TSPK management and can provide benefits to the community in Kragilan and generate Non-Tax State Revenue. This study aims to reveal the development of TSPK's natural tourism activities and examine the role of stakeholders in its development. The method in this research is deductive-qualitative. The development of natural tourism activities was measured using tourism system variables and tourism institutions which were analyzed using Butler's (1980) tourism cycle theory. Stakeholder assessment refers to the influence and interest variables proposed by Reed et.al (2009). The results of this study indicate that TSPK's natural tourism has reached 4 stages of tourism development, namely the exploration, engagement, development, and consolidation stages. The development of TSPK nature tourism activities is influenced by the role of community groups at each stage of development. The roles of community groups in TSPK nature tourism activities are decision-makers, facilitators, coordinators, accelerators, and implementers. The community is aware of the uniqueness of tourist attractions, uses social media as a means of promotion, and builds it according to their point of view. The involvement of government groups only occurred after the TSPK nature tourism began to be visited by tourists. The delay in the involvement of government groups affects the less than maximum benefits felt by the community with the TSPK nature tourism activities.
Kata Kunci : taman nasional, pemberdayaan masyarakat, TALC, wisata alam