RESILIENSI PEREMPUAN PEDAGANG IKAN DALAM MENJAGA RANTAI PASOK DISTRIBUSI IKAN DI KABUPATEN SUMENEP, MADURA
BETY OKTAVIANI, Dr. Pande Made Kutanegara, M.Si.
2021 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYAAmbe'en dan Belijjhe merupakan dua dari berbagai jenis pekerjaan yang disandang oleh para perempuan pesisir bekerja dalam rantai distribusi ikan. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa pada dasarnya perempuan merupakan aktor utama dalam rantai distribusi ikan di pesisir Utara Kabupaten Sumenep, Madura. Dalam mengenjalankan kegiatannya sebagai aktor dalam distribusi ikan, para perempuan pedangan ikan tersebut tentu saja memiliki hambatan, baik yang datang dari faktor alam, sosial masyarakat, maupun dari lembaga pemangku kebijakan setempat. Untuk menjawab isu tersebut, maka ada satu pertanyaan inti yang akan dijawab, yaitu mengapa para perempuan pedagang ikan dapat bertahan di ambang keterbatasan. Kemudian, pertanyaan turunan untuk menjawab pertanyaan inti secara detail antara lain, yang pertama mengenai bagaimana aktvitas perempuan pedangan ikan dalam menghabiskan sebagian besar waktunya dalam domestik dan juga publik. Kedua, bagaimana tantangan yang dihadapi oleh perempuan pedagang ikan dalam menjalankan kegiatan distribusi ikan yang mereka lakukan setiap harinya. Ketiga, bagaimana kemampuan resilensi para perempuan pedagang ikan dalam menghadapi dinamika ketersediaan produksi ikan. Penelitian ini dilakukan di pesisir Utara Kabupaten Sumenep, khususnya di Desa Ambunten Timur. Selain itu, tulisan ini juga menyantumkan sedikit kondisi yang dialami oleh nelayan di beberapa wilayah seperti Slopeng, Pasongsongan dan Pelabuhan untuk memperkuat data mengenai perjalanan ikan. Penelitian ini menghasilkan data kualitatif yang didapatkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, pengambilan dokumentasi berupa foto, serta analisis data. Narasumber utama yang terlibat adalah lima perempuan yang datang dari latar pekerjaan yang berbeda, yakni dua Ambe'en, satu asisten Ambe'en, satu asisten pemilik perahu, dan satu Belijjhe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan pedagang ikan setiap harinya menghabiskan waktu di ranah publik dan juga domestik. Pada kegiatan publik, mereka bekerja memenuhi kebutuhan ekonomi, bersosialisasi, serta mengekspresikan diri melalui seni. Sedangkan dalam kegiatan domestik, perempuan melakukan pekerjaan rumah tangga. Menjadi perempuan yang bekerja dalam bidang distribusi ikan tentu saja menghadapi banyak hambatan. Hambatan yang mereka hadapi adalah datangnya musim angin barat, stratifikasi sosial yang membedakan kemudahan dalam mengakses ikan, serta adanya wacana dari lembaga setempat mengenai penghapusan sistem Ambe'en. Namun, para perempuan pedagang ikan di Ambunten Timur telah memiliki ketahanan untuk menghadapi hambatan tersebut, yaitu dengan cara menanamkan modal sosial seperti membangun rasa saling percaya, menciptakan hubungan patron-klien, mengawetkan ikan untuk dijual kembali, serta mencari alternatif pekerjaan lain seperti berjualan makanan ringan.
Ambe'en and Belijjhe are two of the various types of work carried out by coastal women working in the fish distribution chain. This is one proof that basically women are the main actors in the fish distribution chain on the north coast of Sumenep Regency, Madura. In carrying out their activities as actors in fish distribution, these women fish traders certainly have obstacles, both coming from natural factors, community social, and local policy makers. To answer this issue, there is one core question that will be answered, namely why women fish traders can survive on the threshold of limitations. Then, derivative questions to answer the core questions in detail, among others, the first is about how the activities of women fish traders spend most of their time in domestic as well as public. Second, what are the challenges faced by women fish traders in carrying out their daily fish distribution activities. Third, what are the factors that make women fish traders have resilience to the conditions they experience. This research was conducted on the north coast of Sumenep Regency, especially in the East Ambunten Village. In addition, this paper also includes a few conditions experienced by fishermen in several areas such as Slopeng, Pasongsongan and Pelabuhan to strengthen data on fish travel. This research produces qualitative data obtained through participatory observation, in-depth interviews, taking documentation in the form of photos, and data analysis. The main informants involved were five women who came from different work backgrounds, two Ambe'en, one assistant to Ambe'en, one assistant to the boat owner, and one Belijjhe. The results showed that fish traders spend time in the public and domestic spheres every day. In public activities, they work to meet economic needs, socialize, and express themselves through art. Meanwhile, in domestic activities, women do housework. Being a woman who works in the fish distribution sector, of course, faces many obstacles. The obstacles they face are the arrival of the westerly monsoon season, social stratification that differentiates the ease of accessing fish, and the discourse from local institutions regarding the abolition of the Ambe'en system. However, the women fish traders in East Ambunten have the resilience to face these obstacles, namely by investing in social capital such as building mutual trust, creating patron-client relationships, preserving fish for resale, and looking for other alternative jobs such as selling snacks.
Kata Kunci : Perempuan pedagang ikan, Ambe'en, Belijjhe, rantai pasok distribusi, resiliensi