Pemetaan Tingkat Kerawanan Bencana Tanah Longsor Pada Kawasan Lahan Terbangun Menggunakan Metode Berjenjang Tertimbang di Sebagian Kabupaten Kulon Progo (Studi Kasus Kecamatan Samigaluh, Girimulyo, Dan Kokap)
MARTINA JIANTI, Dhoni Wicaksono, S.Si, M.Sc
2021 | Tugas Akhir | D3 PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIBencana tanah longsor merupakan salah satu bencana yang paling sering terjadi di Kabupaten Kulon Progo. Berdasarkan data BPBD, dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 2015 hingga tahun 2020 tercatat lebih dari 1000 kejadian bencana longsor di Kabupaten Kulon Progo. Terdapat tiga kecamatan yang menjadi daerah paling sering mengalami bencana tanah longsor, yaitu Kecamatan Samigaluh, Girimulyo, dan Kokap. Salah satu dampak negatif dari adanya bencana tanah longsor adalah rusaknya tempat tinggal warga sekitar, bahkan tidak sedikit yang memakan korban jiwa. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pemetaan tingkat kerawanan bencana tanah longsor terhadap kawasan lahan terbangun pada ketiga kecamatan dengan jumlah kejadian longsor terbanyak, yaitu Kecamatan Samigaluh, Girimulyo, dan Kokap. Parameter yang digunakan dalam menentukan kerawanan tanah longsor adalah curah hujan, tutupan lahan, jenis batuan, kemiringan lereng, dan jenis tanah. Hal tersebut didasarkan pada penggunaan klasifikasi kerawanan tanah longsor dari Puslittanak Bogor (2004) sebagai acuan penentuan kerawanan tanah longsor. Metode yang digunakan untuk menentukan kerawanan berdasarkan parameter tersebut adalah metode berjenjang tertimbang. Kelas kerawanan longsor dibedakan menjadi kelas rendah, sedang, dan tinggi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kelas yang paling mendominasi adalah kelas sedang dengan persentase 78,63% atau seluas 15121,45 Ha, kelas rendah dengan persentase 11,01% atau seluas 2117,84 Ha, dan kelas tinggi sebagai kelas dengan luas area paling sempit memiliki persentase 10,36% atau seluas 1991,91 Ha. Sedangkan untuk kerawanan longsor terhadap kawasan lahan terbangun didominasi oleh kelas sedang dengan persentase 73,58% atau seluas 3415,72 Ha, kemudian diikuti kelas rendah dengan persentase 26,3% atau seluas 1221,04 Ha, dan yang terakhir adalah kelas tinggi dengan persentase 0,11% atau seluas 5,19 Ha.
Landslide is one of the most frequent disasters in Kulon Progo Regency. Based on BPBD data, in a period of 5 years from 2015 to 2020 there were more than 1000 landslide events in Kulon Progo Regency. There are three sub-districts that are the areas most frequently experiencing landslides, namely Samigaluh, Girimulyo, and Kokap sub-districts. One of the negative impacts of the landslide disaster is the destruction of the residences of local residents, not even a few who have claimed lives. The purpose of this study was to map the level of vulnerability to landslides to the built-up area in the three sub-districts with the highest number of landslides, namely Samigaluh, Girimulyo, and Kokap Districts. Parameters used in determining landslide susceptibility are rainfall, land cover, rock type, slope, and soil type. This is based on the use of landslide hazard classification from the Bogor Research and Development Center (2004) as a reference for determining landslide susceptibility. The method used to determine vulnerability based on these parameters is a weighted tiered method. Landslide susceptibility classes are divided into low, medium, and high classes. Based on the research that has been done, the most dominating class is the medium class with a percentage of 78.63% or an area of 15121.45 Ha, the low class with a percentage of 11.01% or an area of 2117.84 Ha, and the high class as the class with the largest area narrow has a percentage of 10.36% or an area of 1991.91 ha. Meanwhile, landslide susceptibility to the built-up area is dominated by the medium class with a percentage of 73.58% or an area of 3415.72 Ha, followed by the low class with a percentage of 26.3% or an area of 1221.04 Ha, and the last one is the high class with a percentage of 1221.04 Ha. 0.11% or 5.19 H.
Kata Kunci : Tanah Longsor, Lahan Terbangun, Sistem Informasi Geografi, Penginderaan Jauh / Landslide, Built up Area, Geographic Information System, Remote Sensing