STUDI ADAPTABILITAS DAN TOPOFISIS TANAMAN JATI (Teetona grandis L. f.) HASIL OKULASI UMUR 15 BULAN DI PETAK 18 WANAGAMA I
MUHAMMAD UMAR SAID , Ir. Adriana, M.P.
2004 | Skripsi | S1 KEHUTANANDari hasil penelitian Adriana (2002), tentang keberhasilan pertumbuhan jati (Tectona grandis L.f.) asal okulasi dengan berbagai posisi cabang dan posisi mata tunas di lapangan didapatkan bahwa bahan asal okulasi berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, kemudian persen tumbuhnya cukup tinggi (97,22 %). Selain itu juga banyak tanaman yang pertumbuhannya lateral (plagiotroph). Hal ini sangat menarik untuk dipelajari dan dievaluasi lebih lanjut terutama pada saat tanaman berumur 1-2 tahun yang merupakan masa kritis untuk beradaptasi. Dengan pertimbangan tersebut, maka periu dilakukan penelitian untuk mengevaluasi tingkat adaptabilitas dan fenomena pertumbuhan miringnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan adaptabilitas di lapangan, mengetahui faktor penyebab terjadinya sifat pertumbuhan mendatar sebagai gejala topofisis serta mengetahui perlakuan terbaik pada tanaman jati hasil okulasi dengan berbagai posisi cabang dan posisi mata tunas. Penelitian dilaksanakan di lokasi tanaman jati hasil okulasi pada hutan penelitian Wanagama I (petak 18) selama 6 bulan mulai bulan Nopember 2002 sampai bulan April 2003. Tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanamanjati hasil okulasi dengan berbagai posisi cabang dan posisi mata tunas pada umur 9 bulan di lapangan, dan penelitian Adriana (2002). Penelitian dibuat dengan rancangan acak lengkap berblok (RCBD). Pada rancangan tersebut terdapat 3 blok dengan 3 perlakuan posisi cabang dan 3 perlakuan posisi mata tunas, masing-masing 4 treeplot, sehingga terdapat 12 tanaman setiap perlakuan. Jumlah seluruh tanaman 3 x 3 x 3 blok x 4 tree plot= 108 batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai umur 15 bulan, kemampuan adaptabilitas tanaman jati di petak 18 Wanagama I secara umum cukup tinggi berdasarkan angka persen hidup yang mencapai 94,28 %, pertumbuhan panjang dan diameter batang baik, kecilnya persentase tanaman yang terserang penyakit dan dari efek pertumbuhan di lapangan, pada umur ini belum terdapat tanaman yang mengalami gejala inkompatibilitas. Sedangkan teknik perlakuan okulasi tidak menunjukkan pengaruh pada pertumbuhan panjang batang maupun diameter batang, melainkan berpengaruh nyata pada sifat pertumbuhan miring tanaman sebagai gejala topofisis. Bahan asal okulasi terutama letak ranting (posisi mata tunas pada ranting) temyata merupakan faktor utama (limiting factor) penyebab gejala topofisis. Perlakuan C2MT (order cabang tingkat 2, roata tunas di tengah ranting) secara umum mempunyai rerata terbaik dari berbagai parameter (secara kualitatif maupun kuantitatif), sedangkan perlakuan terjelek adalah perlakuan CIMP (order cabang tingkat 1, mata tunas di pangkal ranting). Khusus untuk kemiringan batang tanaman, perlakuan terbaik adalah C3MP dan terjelek adalah perlakuan C3MU.
Kata Kunci : adaptabilitas, topofisis, okulasi, scion, rootstock, Tectona grandis.