Laporkan Masalah

PEMANFAATAN SERBUK GERGAJIAN KAYU NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lamk) SEBAGAI PENGHASIL ZAT WARNA ALAM UNTUK PEWARNAAN BATIK

NONI EKO RAHAYU , Ir. Kasmudjo, MS.

2005 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Pohon nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk) tidak hanya dikenal sebagai penghasil buah, tetapi juga penghasil kayu. Limbah gergajian kayunya berupa serbuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan media tanam anggrek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peluang serbuk kayu nangka sebagai penghasil zat wama alam dan pengaruhnya terhadap nilai ketahanan luntur wama. Penelitian menggunakan Rancangan Faktorial 3 x 3 x 3.Variabelvariabel penelitian berupa: (1) lama ekstraksi yaitu Y2 jam, 1jam dan 1 Y2 jam; (2) jenis sarenan yaitu tawas, kapUT dan tunjung; dan (3) konsentrasi sarenan yaitu 20 gIL, 35 gIL dan 50 gIL. Cara penelitian dimulai denganekstraksi serbuk dan hasilnya digunakan untuk mewamai kain yang sudah dicap dengan lilin (malam). Kain kemudian direndam dalam sarenan dengan konsentrasi yang telah ditentukan. Parameter penelitian berupa uji ketahanan luntur wama terhadap keringat asam, sinar matahari, pencucian 40°C dan pencucian 70°C. Analisa menggunakan uji Regresi Ordinal untuk mengetahui ~ategori nilai ketahanan luntur wama dan Chi-Square untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel penelitian terhadap hasil uji, dilanjutkan uji Koefisien Kontingensi untuk mengetahui besamya pengaruh tersebut. Hasil penelitian menunjukkan serbuk kayu nangka berpeluang sebagai penghasil zat wama alamo Nilai ketahanan luntur wama tinggi pada uji terhadap keringat asam dan sinar matahari, sedang pada pencllcian 40°C dan rendah pada pencllcian 70°C. Lama ekstraksi tidak berpengaruh terhadap nilai ketahanan luntur warna. Pada uji ketahanan luntur wama terhadap keringat asam sarenan tawas dan kapur menghasilkan nilai tinggi. Pada uji terhadap sinar matahari, tawas dan tunjung menghasilkan nilai tinggi. Pada uji terhadap pencllcian 40°C danl 70°C, tunjung menghasilkan nilai sedang. Konsentrasi 35 gIL sarenan tawas dan kapur menghasilkan nilai tillggi pada uji terhadap keringat a5am. Pada uji sinar matahari konsentrasi tawas minimal 35 gIL dan tunjung 20 gIL menghasilkan nilai tinggi. Pada pencucian 40°C konsentrasi tunjung minimal 20 gIL menghasilkan nilai sedang. Pada pencucian 70°C konsentrasi tunjung minimal 20 gIL menghasilkan nilai sedang. Dapat disarankan untuk hasil optimal lama ekstraksi 1jam, menggunakan tunjung dengan konsentrasi 20 gIL. Kata kunci :

Kata Kunci : serbuk kayu nangka, zat wama alam, ketahanan luntur wama

  1. S1-2005-106606_ABSTRACT.pdf  
  2. S1-2005-106606_BIBLIOGRAPHY.pdf  
  3. S1-2005-106606_TABLE_OF_CONTENT.pdf  
  4. S1-2005-106606_TITLE.pdf