Laporkan Masalah

Hubungan status gizi ibu pada awal kehamilan dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) di Kabupaten Klaten

SUROSO, dr. Hamam Hadi, MS.,ScD.

2002 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang. Prcvalcnsi bcrat badan Id& rcndah ( BBLR ) di Indonesia masih tinggi yaitu 15% ( 1995 ). Meiiuiut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia ( 1994 ) angka kematian bayi di Tndonesia terdapat 421/100.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab tingginya kematian tersebut adalah kelahiran bayi dengan BBLR. Kehamilan pada wanita dengan status giZi rendah mempunyai risiko untuk melahirkan bayi dengan BBLR lebih tinggi dibandingkan ibu dengan status gizi cukup. Untuk mengetahui status gizi ibu &pat diukur dengan indikator indek masa tubuh atau lingkar lengan atas. Tujuan Penelitian. Untuk mengetahui hubungan antara status gizi ibu pa& awal kchamilan dan faktor risiko lain dcngan kcjadian berat badan lahir rendah. Metode Penelitian. Jenis penelitian adalah observasional, dengan rancmgan penelitian kasus kontrol. Sasaran dari penelitian ini adalah ibu-ibu di wilayah Kabupaten Klaten yang melahirkan bayi dengan BBLR sebagai kasus dan ibu-ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir cukup sebagai kontrol. Status gizi ibu pada awal kehamilan dengan indikator IMT, dapat diperoleh dcngan mcngctahui berat badan dan tinggi badan ibu. Bcrat badan ibu dipcrolch dari dokumen atau catatan pada KMS ibu hamil yang ditimbang pada bulan pertama kehamilan. Sedangkan LLA dan faktor reviko lain diukur pada waktu melahirkan ditempat persalinan. Uji kemaknaan dengan Chi-Squarc, sedangkan uji regresi berganda dengan metode conditional Zogistic regression. Hasil Penelitian. Mehlui uji univariat IMT, LLA, Paritas, iiwayit BBLR, itsupan Energi, Protein, dan Fe, merupakan faktor iisiko yang mempunyai hubungan signifikan dengan kejadian BBLR ( p < 0.05 ). Sedangkan interval kelahiran bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian BBLR ( p > 0.05 ). IMT mcmpunyai pcngaruh tcrhadip BBLR dcngan nilai OR 17,15. Scdangkan UA mempunyai nilai OR 16,36. Dengan uji multivasiat vnriabel yang paling signifikan adalah IMT, LLA, Riwayat BBLR, Paritas, dan Asupan Energi. Kesimpulan. Ibu pada awal kehamilan dengan IMT < 18,5 mempunyai risiko untuk melahirkan BBLR lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang inempunyai IMT 2 18,s. Terdapat hubungan yang signifikan antara LLA, Asupan Energi dan Protein dengan kejadian BBLR. Ibu dengan status persalman primipara inempunyai risiko lebih tin@ melahirkan BBLR dibandingkan &wan ibu multipara.

Background : Prevalence of Low Birth Weight (LBW) in Indonesia remains high, i,e. 15 % in 1995. According to Indonesian Demography and Health Survey, infant mortality in Indonesia is 421/100.000,- one of the main causes is the delivering of LBW babies. Pregnant women with a good nutritional status have hgher risk in delivering LB W babies, compared with those with good nutritional status. Nutritional status is measured by using two indicators : Body Mass Index (BMI) or Mid Upper Arm Circumference (MUAC). Objective : To asses the relation between maternal nutritional status in early pregnancy as well as other risk factors and the cases of delivering Low Birth weight(LBW) infants. Methods : This was a case control study using mothers who delivered LBW infants as cases and those who delivered normal birth weight as controls. Mothers nutritional status with IMT indicators are gained by measuring their body weight and height. Record of body weight from antenatal visit during the first month of pregnancy was used to calculate Body Mass Index (BMI). ?'he weight infant was measured less than 24 hour after the delivery. Results : Univariat analysis showed that BMI, MUAC, parity, infants with LBW history also the intake of energy, protein and iron are significantly related with the risk of having LBW-infants (p < 0,OS). While the birth interval had no significant relation (p > 0,05). 1MT affects the LBW (OR 17.15) and LLA got OR 16,36. Multivariat variable analysis showed that IMT, LLA, LBW history and energy intake are the most significant factors. Conclusion : Women with IMT < 18,5 have higher risks of delivering LBW babies than those with IMT > 18,5. There is a significant relation between LLA, energy and protein intake with LBW cases. Primipara status on delivering gave higher risk of LBW infant than those with multipara status.

Kata Kunci : Gizi Wanita Hamil,Berat Badan Lahir Rendah


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.