Analisis Keuntungan Produksi Benang Sutera Alam ( Kasus Koperasi Petani Sutera ( KOPSA ) Merapi, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta )
SUSWAJI, Ir. Siswantoyo DP. MS
2003 | Skripsi | S1 KEHUTANANAnalisis .JII..1IIl....... 1&4JUl .. IUI.1Ul4i...WJlUIl 1IIUll'_""'A'IIlIlllltll'4:'llll Dt:J[laIJU! -..,.... ",. ........ Study Kasus Koperasi Petani Sutera Alam (KOPSA) l"IIIJIIIALllllr·...JIlrlll1 Kecamatan Pakem, Kabupaten Slemsn, Yogyakarta Oleh: Suswaji 1 Siswantoyo Dp2 Sri Nugroho Marsoem3 Intisari Penelitian tentang biaya produksi ini dilakukan di Koperasi Petani Sutera (KOPSA) Merapi, Kecamatan Pake~, Sleman, Yogyakarta. Penelitian dilnaks~dkan untuk mengetahui struktur biaya benang sutera dan volume produksi untuk mencapai break-even-point. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif' yang menggunakan data primer dan data sekunder. Model analisis dilakukan dengan jalan Inempelajari perkembangan produksi, menentukan biaya produksi dan menentukan volume produksi saat break-even-point. Analisis biaya ini dimulai dari bahan baku yang berupa kokon sampai memprosesnya menjadi benang sutera. H.asil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukan bahwa total biaya produksi tahun 2001 sebesar Rp.231.304.321,4 atau Rp.255.867,61/kg benang slltera, yang terdiri dari biaya tetap sebesar Rp.66.021.900 (28,54%) atau Rp.73.033,07/kg dan biaya variabel sebesar .Rp.l.65.282.421,4 (71,46%) atau Rp.182:834,54/kg benang sutera, dan total biaya produksi tahun 2002 sebesar Rp.238.646.364,2 atau Rp.262.248,74/kg benang sutera. yang terdiri biaya tetap sebesar Rp.65.157.450 (27,30%) atau Rp.71.601,59/kg dan biaya variabel sebesar Rp.173.488.914,2 (72,30%) atau Rp.262.248,74 /kg benang sutera. Kedudukan break-even volume produksi dan penjualan benang sutera KOPSA Merapi pada tahun 2001 sebesar 925,22 kg dan pada tahun 2002 sebesar 954,58 kg. Volume produksi KOPSA Merapi pada tahun 2001 adalah sebesar 904 kg dan besarnya volume produksi ini baru m~ncapai 97,7% dan volume saat break-even. Dan untuk tahun 2002, volume produksinya sebesar 910 kg dimana volume tersebut baru mencapai 95,330/0 dari volume produksi saat break-even. Data ini menunjukkan realisasi volume produksi selama ini belum optimal, karena kontinuitas persediaan bahan baku yang tidak stabile Permasalahan bahan baku ini juga Inenyebabkan jumlah biaya produksi yang dikeluarkan dengan volume benang sutera yang dihasilkan tidak proporsional dan ini mengakibatkan perusahaan menderita kerugian. Realisasi volume benang sutera yang diproduksi masih dibawah volume saat mencapai break-even-point Kata kunci :
Kata Kunci : Sutera Alam, KOPSA, Analisis Keuntungan