Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Praktik DAGUSIBU pada Mahasiswa Universitas Gadjah Mada
SENDY GILBERT S, apt. Septimawanto Dwi Prasetyo, M. Si.
2021 | Skripsi | S1 FARMASIDAGUSIBU diciptakan oleh IAI untuk mempromosikan penggunaan obat yang benar. Jumlah penduduk Indonesia yang melakukan pengobatan cukup tinggi, tetapi tingkat pengetahuan penggunaan obat penduduk Indonesia masih rendah. Pada mahasiswa, beberapa penelitian menunjukkan mahasiswa dinilai belum mengetahui dan melakukan praktik penggunaan obat yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran tingkat pengetahuan dan praktik DAGUSIBU pada mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Metode yang digunakan adalah metode observasional menggunakan survei dengan metode sampling berupa gabungan convenience sampling. Populasi berupa mahasiswa S1 UGM dengan jumlah sampel minimum 395 orang responden. Terdapat empat bagian dalam kuesioner penelitian, yaitu data sosiodemografi, pengalaman DAGUSIBU responden, tingkat pengetahuan DAGUSIBU dan tingkat praktik DAGUSIBU. Data yang didapat dianalisis menggunakan koding dengan Microsoft Excel. Korelasi faktor sosiodemografis dengan tingkat pengetahuan DAGUSIBU dan tingkat praktik DAGUSIBU dianalisis menggunakan uji Chi kuadrat memakai SPSS dengan confidence interval 95% (p<0,05). Dari hasil data 431 responden, rata-rata mahasiswa UGM memiliki tingkat pengetahuan DAGUSIBU rendah dan tingkat praktik DAGUSIBU yang kurang baik. Rata-rata nilai tingkat pengetahuan DAGUSIBU sebesar 8,28±2,76, dengan 48,26% responden memiliki tingkat pengetahuan DAGUSIBU tinggi. Rata-rata nilai tingkat praktik DAGUSIBU sebesar 23,09±3,41, dengan 41,76% responden memiliki tingkat praktik DAGUSIBU yang baik. Faktor demografis yang mempengaruhi tingkat pengetahuan DAGUSIBU berupa jenis kelamin (p=0,003), klaster pendidikan (p=0,000), sumber informasi obat (p=0,006), dan waktu terakhir membeli obat (p=0,014). Faktor demografis yang mempengaruhi tingkat pengetahuan DAGUSIBU berupa jenis kelamin (p=0,001), klaster pendidikan (p=0,000), sumber informasi obat (p=0,008), dan lokasi mendapatkan obat (p=0,014).
DAGUSIBU was conceived by IAI to promote rational use of medicine. There is a big number of Indonesians using medicine, yet the level of medicine knowledge among them is below expectations. Several studies targeted towards college students shows the low level of medicine knowledge and practice among the group. This study aims to provide an overview of DAGUSIBU knowledge and practice among students of Universitas Gadjah Mada (UGM). This study is an observational study utilizing a survey, using convenience sampling to collect samples. Undergraduate students of UGM were chosen as the population, with 395 respondents set as the minimum sample size. There are four segments in the survey, which are sociodemographic data, respondent's DAGUSIBU experience, DAGUSIBU knowledge and DAGUSIBU practice. Collected data were analyzed by coding in Microsoft Excel. Correlation between sociodemographic factors with DAGUSIBU knowledge and DAGUSIBU practice were analyzed by Chi-square cross-tabulation in SPSS with 95% confidence interval (p<0,05). Among 431 respondents, students of UGM had below average levels of DAGUSIBU knowledge and practice. Average score of DAGUSIBU knowledge is 5.91±1.97, with 48.26% of respondents having high levels of DAGUSIBU knowledge. Average score of DAGUSIBU practice is 23.09±3.41, with 41.76% of respondents having appropriate levels of DAGUSIBU practice. Demographic factors such as sex (p=0.003), educational major (p=0.000), source of information (p=0.006), and last time of purchasing medicine (p=0.014) affected DAGUSIBU knowledge, factors such as sex (p=0.001), educational major (p=0.000), source of information (p=0.008), and location of purchase (p=0.014) affected DAGUSIBU practice.
Kata Kunci : DAGUSIBU, mahasiswa, pengetahuan, praktik