STRATEGI PEMBERDAYAAN DIFABEL PADA KELOMPOK DIFABEL DESA (KDD) DI DESA SENDANGTIRTO, KECAMATAN BERBAH, KABUPATEN SLEMAN
MIFTAH AWALURRIZQI, Drs. Suparjan, M.Si.
2021 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANKelompok Difabel Desa (KDD) Sendangtirto merupakan contoh nyata bagaimana pemberdayaan difabel itu dilakukan dari, oleh, dan untuk difabel. Kaum difabel di sana tidak hanya sebagai objek pemberdayaan tapi juga diposisikan sebagai subjek pemberdayaan. KDD Sendangtirto mengutamakan peran aktif para difabel di dalamnya. Kaum difabel sendirilah yang menjadi aktor utama pemberdayaan bagi diri mereka sendiri. Aspirasi difabel merupakan jalan utama untuk bagaimana bentuk dan pelaksanaan strategi pemberdayaan difabel dapat dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk dan pelaksanaan strategi pemberdayaan difabel di KDD Sendangtirto. Penelitian ini juga bertujuan untuk melihat peran aktif kaum difabel di KDD Sendangtirto dalam prosesnya melakukan pemberdayaan, sekaligus menjadi pembeda dari penelitian-penelitian terdahulu. Teknik pengumpulan datanya yaitu wawancara, observasi, dokumentasi, dan didukung dengan studi pustaka. Pada penelitian ini digunakanlah Teori Aksi dari Talcott Parsons yang didalamnnya terdapat unit-unit aksi (aktor, kendala situasional, ide abstrak, alat/cara, dan tindakan) sebagai sudut pandang untuk melihat peran aktif kaum difabel dalam pelaksanaan strategi pemberdayaan di KDD Sendangtirto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemberdayaan difabel yang diterapkan di KDD Sendangtirto adalah dengan meningkatkan kapasitas para difabel melalui rehabilitasi vokasional/karya. Kemudian rehabilitasi vokasional/karya tersebut diturunkan dalam bentuk pelatihan-pelatihan yang mana kaum difabel yang menentukan apa saja pelatihan-pelatihan tersebut, mereka menentukan bentuk pelatihan yang telah disesuaikan dengan kondisi, potensi, dan minat mereka sendiri. Adapun pelatihan-pelatihan tersebut yaitu pelatihan ternak ayam, pijat khusus tunanetra, produksi jajanan pasar, produksi sayur siap jual dengan media polybag, dan produksi berbagai kerajinan. Hal yang membedakan pemberdayaan difabel di KDD Sendangtirto dengan yang lain adalah diutamakannya peran aktif dari kaum difabel. Sejatinya sudah bisa dilihat peran kaum difabel dari inisiasi mereka membentuk dan bergabung ke dalam KDD Sendangtirto tersebut, namun peran aktif lainnya dari kaum difabel dapat dilihat juga dari penyampaian aspirasi dalam penentuan bentuk pelatihan, mengadakan pertemuan rutin, dan pelaksanaan pelatihan.
The Sendangtirto Village of People with Disabilities Group (KDD Sendangtirto) is a clear example of how the empowerment of people with disabilities is carried out from, by, and for the disabled. People with disabilities are not only objects of empowerment but theyare also subjects of empowerment. This group prioritizes the active role of people with disabilities in it. People with disabilities themselves are the main actors of empowerment for themselves. The aspirations of people with disabilities are the main road for how the form and implementation of empowerment strategies for people with disabilities can be implemented. The model of this research is a descriptive qualitative with the aim of knowing and describing the form and implementation of the disabled empowerment strategy in KDD Sendangtirto. This study also aims to see the active role of people with disabilities in KDD Sendangtirto in the process of empowering, as well as being a differentiator from previous studies. The data collection techniques are interviews, observation, documentation, and supported by literature studies. In this study, Talcott Parsons' Theory of Action is used in which there are action units (actors, situational constraints, abstract ideas, tools/methods, and actions) as a point of view to see the active role of people with disabilities in implementing empowerment strategies in KDD Sendangtirto. The results showed that the disabled empowerment strategy implemented in KDD Sendangtirto was to increase the capacity of the disabled through vocational/work rehabilitation. Then the vocational/work rehabilitation is revealed in the form of trainings in which people with disabilities determine what these trainings are, they determine the form of training that has been adapted to their own conditions, potential, and interests. The trainings are chicken farming training, special massage for the visually impaired, the production of market snacks, the production of ready-to-sell vegetables using polybag, and the production of various crafts. The thing that distinguishes the empowerment of people with disabilities in KDD Sendangtirto from others is the active role of people with disabilities. Indeed, it can be seen from the role of people with disabilities from their initiation to form and join the Sendangtirto KDD, but the other active role of people with disabilities can be seen from the preparation for forming training, holding regular meetings, and implementing training.
Kata Kunci : Strategi pemberdayaan, difabel, KDD Sendangtirto, peran aktif