Laporkan Masalah

Kajian Daya Dukung Lahan Pertanian Terhadap Ketersediaan Pangan di Kabupaten Sleman Bagian Barat Tahun 2014 - 2020

HAYYUN NADIA, Dr. Rika Harini, S.Si., M.P.

2021 | Skripsi | S1 GEOGRAFI LINGKUNGAN

Sleman Barat merupakan wilayah pertanian, sehingga dijadikan sebagai lumbung pangan Daerah Istimewa Yogyakarta dan kawasan strategis ketahanan pangan pertanian tanaman pangan beririgasi. Sleman Barat yang berbatasan dengan kota dari waktu ke waktu semakin mengalami konversi lahan pertanian ke non-pertanian yang akan mempengaruhi ketersediaan pangannya. Ketersediaan pangan yang naik atau turun akan berdampak pada kondisi daya dukung lahannya, apakah akan semakin baik atau semakin buruk. Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi pertanian padi di Kabupaten Sleman dan Sleman Barat, mengetahui daya dukung lahan pertanian dan ketersediaan pangan beras di Sleman Barat, dan mengidentifikasi hubungan antar keduanya. Metode yang digunakan yaitu analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Perumusan parameter daya dukung lahan pertanian dan ketersediaan pangan berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sleman. Uji regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh indikator yang digunakan dalam daya dukung lahan pertanian dan ketersediaan pangan beras. Hubungan daya dukung lahan pertanian dan ketersediaan pangan diketahui menggunakan uji korelasi Spearman rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penurunan kondisi pertanian di Kabupaten Sleman dikarenakan pembangunan cenderung mengarah ke Kabupaten Sleman berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta yang merupakan pusat perkembangan daerah yang sangat tinggi. Penurunan kondisi pertanian di Sleman Barat dikarenakan konversi sawah menjadi hutan (produksi) dan permukiman. Daya dukung lahan pertanian padi di Sleman Barat selama tujuh tahun terakhir mempunyai tren yang fluktuatif, dan hasil klasifikasi cenderung dalam kelas II. Hal ini berarti bahwa Sleman Barat sudah mampu berswasembada pangan, namun belum mampu memberikan kehidupan yang layak untuk penduduknya. Indikator yang paling berpengaruh terhadap daya dukung lahannya yaitu luas lahan panen dan rata-rata produksi padi. Ketersediaan pangan beras memiliki tren yang fluktuatif, Kapanewon Minggir dan Kapanewon Moyudan cenderung naik, dan Kapanewon Seyegan dan Kapanewon Godean cenderung menurun. Indikator yang paling berpengaruh terhadap ketersediaan pangannya yaitu rata-rata produksi padi dan konversi gabah ke beras. Daya dukung lahan pertanian padi dan ketersediaan pangan beras mempunyai hubungan yang sangat kuat.

West Sleman is an agricultural area, so it is used as a food barn for the Special Region of Yogyakarta and a strategic area for food availability for irrigated food crops. However, West Sleman which borders the city from time to time is increasingly experiencing conversion of agricultural land to non-agricultural, affecting the availability of food. The availability of food that goes up or down will have an impact on the condition of the carrying capacity of the land, whether it will get better or worse. Therefore, the purpose of this study is to determine the condition of rice farming in the Sleman Regency and West Sleman, to determine the carrying capacity of agricultural land and rice food availability in West Sleman, and to identify the relationship between the two. The method used is descriptive qualitative and quantitative analysis. The formulation of parameters for the carrying capacity of agricultural land and food availability is based on data obtained from the Department of Agriculture and Fisheries of Sleman Regency. A multiple linear regression test was used to determine the effect of indicators used in agricultural land carrying capacity and rice food availability. The relationship between the carrying capacity of agricultural land and food availability was determined using the Spearman rho correlation test. The results of the study indicate that the decline in agricultural conditions in Sleman Regency is due to development that tends to lead to the Sleman Regency directly adjacent to the City of Yogyakarta which is the center of very high regional development. The decline in agricultural conditions in West Sleman is due to the conversion of rice fields into forests (production) and settlements. The carrying capacity of paddy fields in West Sleman for the last seven years has a fluctuating trend, and the classification results tend to be in class II. This means that West Sleman has been able to be self-sufficient in food, but has not been able to provide a decent life for its residents. The most influential indicators on the land's carrying capacity are the area of harvested land and the average rice production. Rice food availability has a fluctuating trend, Kapanewon Minggir, and Kapanewon Moyudan tend to increase, and Kapanewon Seyegan and Kapanewon Godean tend to decrease. The indicators that most influence the availability of food are the average rice production and the conversion of grain to rice. The carrying capacity of rice farming land and the availability of rice food has a very strong relationship.

Kata Kunci : Sleman Barat, Daya Dukung Lahan Pertanian Padi, Ketersediaan Pangan beras

  1. S1-2021-412023-abstract.pdf  
  2. S1-2021-412023-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-412023-tableofcontent.docx  
  4. S1-2021-412023-tableofcontent.pdf  
  5. S1-2021-412023-title.pdf