Implementasi Program Sister Village terhadap Kesiapsiagaan Masyarakat dan Infrastruktur dalam Upaya Mitigasi Bencana di Desa Tamanagung sebagai Desa Mitra
RIV`ANI, Dr. Estuning Tyas Wulan Mei, M.Si.
2021 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHAncaman erupsi Gunung Api Merapi dapat terjadi sewaktu-waktu dan menimbulkan dampak serta kerugian bagi kehidupan masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Api Merapi. Dengan adanya pengalaman penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi korban erupsi Gunung Api Merapi yang terjadi pada tahun 2010, dibentuklah Program Sister Village sebagai upaya pengurangan risiko bencana. Program Sister Village dilakukan dengan cara menempatkan pengungsi yang berasal dari desa terdampak menuju desa penyangga yang terletak di luar Kawasan Rawan Bencana (KRB) III. Namun demikian, penting untuk mengetahui bagaimana implementasi program melalui penelitian untuk melihat kesiapsiagaan dan tanggap bencana oleh masyarakat dan infrastruktur di Desa Tamanagung yang merupakan salah satu desa penyangga dalam Program Sister Village. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi bagaimana kondisi kesiapsiagaan pada masyarakat dan infrastruktur setelah dicanangkannya Program Sister Village. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran dengan data primer yang diambil menggunakan kuesioner dan checklist. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat pada aspek pengetahuan sudah cukup baik, sedangkan pada aspek lain yaitu aspek kebijakan dan panduan, aspek rencana tanggap darurat, dan aspek mobilisasi sumber daya masih perlu ditingkatkan kembali. Pada aspek sistem peringatan bencana, mayoritas masyarakat memanfaatkan telepon genggam dengan pemanfaatan aplikasi WhatsApp sebagai sistem peringatan bencana. Pada kesiapsiagaan infrastruktur di Desa Tamanagung masih perlu ditingkatkan baik dari sisi daya tampung, keselamatan infrastruktur, aspek kesehatan, maupun kenyamanan.
The threat of the eruption of Mount Merapi Volcano can occur at any time and cause impacts and losses for the lives of people living on the slopes of Mount Merapi. Based on the experience of disaster management and handling refugees victims of the Merapi Volcano eruption that occurred in 2010, the Sister Village Program was formed as an effort to reduce disaster risk. The Sister Village program is carried out by placing refugees from affected villages to buffer villages located outside the Disaster-Prone Areas (KRB) III. Therefore it is important to know how the implementation needs to be researched, how the program research sees disaster preparedness, and the response by the community and infrastructure in one of the buffer villages in the Sister Village Program, Desa Tamanagung. This research aims to identify how is the condition of community and infrastructure preparedness after the launch of the Sister Village Program. The method used in this study is a mixed-method with primary data collected using questionnaires and checklists. The results of this study shows that the community's preparedness in terms of knowledge is quite good, while in other aspects, such as aspects of policies and guidelines, aspects of emergency response plans, and aspects of resource mobilization still need an improvement. In the disaster warning system aspect, most people use mobile phones by utilizing the WhatsApp application as a disaster warning system. In terms of infrastructure preparedness, Desa Tamanagung still needs to be improved in terms of capacity, infrastructure safety, health aspects, and comfort. Keywords: Merapi Volcano eruption, Sister Village Program, Preparedness
Kata Kunci : Erupsi Gunung Api Merapi, Program Sister Village, Kesiapsiagaan