Analisis Peran Apoteker dalam Mengatasi Drug Related Problems Berbasis Medication Therapy Management pada Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Daerah Istimewa Yogyakarta
GALUH NONIF RIZKIA, Dr. apt. Nanang Munif Yasin, M.Pharm
2021 | Skripsi | S1 FARMASIPengobatan tuberkulosis yang dilakukan selama berbulan-bulan dengan banyaknya rejimen terapi yang digunakan menyebabkan munculnya Drug Related Problems. Pelaksanaan pharmaceutical care seperti Medication Therapy Management dinilai mampu mencegah dan mengatasi kejadian DRPs pada terapi tuberkulosis. Pharmaceutical care yang optimal tidak lepas dari peran apoteker. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk me-review dan mengetahui kejadian DRPs pada terapi tuberkulosis, me-review dan mengetahui peran apoteker pada pelayanan terapi tuberkulosis, peran apoteker dalam mencegah dan mengatasi kejadian DRPs pada terapi tuberkulosis di puskesmas serta mengetahui persepsi apoteker mengenai implementasi pelayanan berbasis MTM. Penelitian ini merupakan gabungan narrative review dan penelitian kualitatif. Narrative review akan dilakukan melalui penelusuran artikel yang terdapat pada database Researchgate, PubMed, Scopus, Proquest, Sciencedirect, Google Scholar, dan Google Cendekia dengan kata kunci yang telah ditentukan dan operator Boolean. Pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling. Responden merupakan apoteker yang bekerja di Puskesmas di 3 Kabupaten/Kota Provinsi DIY. Terdapat 21 artikel yang di-review dan 5 responden yang diwawancara. Hasil review menyatakan bahwa DRPs yang paling sering terjadi pada pelayanan tuberkulosis adalah reaksi yang tidak diinginkan (24%-86%), ketidakpatuhan (11% - 66%), dan dosis terlalu tinggi (2%-14 %). Sedangkan hasil wawancara menunjukkan DRPs yang paling sering muncul pada pelayanan TB di puskesmas adalah reaksi yang tidak diinginkan, ketidakpatuhan, dan dosis terlalu rendah. Hasil review, peran yang paling banyak dilakukan oleh apoteker dalam pelayanan terapi TB adalah edukasi dan konseling pasien (75%), monitoring (44%), dan kolaborasi dengan dokter dan perawat (44%). Sedangkan pada hasil wawancara, peran yang prioritas dilakukan adalah konseling, monitoring kepatuhan, dan DOTS. Peran apoteker untuk mengatasi DRPs adalah merekomendasikan penambahan obat, edukasi pasien, bekerjasama dengan dokter dan penanggungjawab program TB. Sebagian besar responden belum memahami MTM, namun memiliki persepsi yang baik untuk menerapkan MTM di pelayanan TB. Saat ini apoteker masih menyusun strategi untuk memulai menerapkan MTM dalam pelayanan TB yaitu mengoptimalkan pencatatan dan meningkatkan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
Tuberculosis treatment has many therapeutic regimens used, led to the Drug Related Problems. The implementation of pharmaceutical care such as Medication Therapy Management is considered capable to preventing and resolve the DRPs. The implementation of pharmaceutical care cannot be separated from the role of pharmacists. Therefore, this study was conducted to review and determine the incidence of DRPs in tuberculosis therapy at the Public Health Center, review and determine the role of pharmacists in tuberculosis pharmaceutical care, the role of pharmacists in preventing and resolve the incidence of DRPs in tuberculosis care at the Public Health Center in Yogyakarta and to know pharmacist's perception of the implementation of MTM services to solve DRPs. This research is a combination of narrative review and qualitative research. Narrative review will be carried out through searching articles in electronic databases Researchgate, PubMed, Scopus, Proquest, Sciencedirect, Google Scholar, and Google Cendekia with research keywords. Qualitative data was collected by interviews with pharmacists as respondents with the selection of samples using the purposive sampling method. Respondents are pharmacists who work in 3 health centers in 3 regencies of DIY. There were 21 articles reviewed and 5 respondents interviewed. The results of articles review stated DRPs that most frequently occurred in tuberculosis care are adverse drug reaction (24%-86%), noncompliance (11%-66%), and dosage too high (2%-14%), while the results of interviews DRPs that most often appeared in TB care are adverse drug reaction, noncompliance, and dosage too low. The results of review show that the roles that are mostly carried out by pharmacists in TB care are patient education and counseling, monitoring, and interdisipliner collaboration. While the results of interviews, the roles that are often carried out are counseling (75%), monitoring of compliance (44%), and DOTS (44%). Role of pharmacist to to preventing and resolve DRPs are education and recommendation to give drugs for ADR, collaboration with TB programmer and doctor. Most respondents do not understand MTM, but have a good perception of implementing MTM in TB services. Currently pharmacists are still developing strategies to start implementing MTM in TB pharmaceutical care that is optimize documentation and optimize interdisipliner collaboration.
Kata Kunci : DRPs, Tuberkulosis, Peran Apoteker, MTM, Puskesmas, Drug Related Problems