Perbandingan Pemetaan Daerah Rawan Longsor Menggunakan Metode Kuantitatif Berjenjag Tertimbang dan Slope Morphology (SMORPH) (Stusi Kasus: Kec. Dlingo, Kec. Imogiri dan Kec. Piyungan, Kab. Bantul)
KERENITA YOSEPHIN S, Dhoni Wicaksono, S.Si., M.Sc.
2021 | Tugas Akhir | D3 PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIKecamatan Dlingo, Imogiri dan Piyungan merupakan kecamatan dengan kejadian longsor tertinggi di Kabupaten Bantul tahun 2012-2019. Wilayah bertopografi miring hingga sangat terjal didominasi oleh perbukitan serta beberapa ciri lainnya menyebabkan wilayah ini sering dilanda longsor. Pemetaan daerah rawan longsor perlu dilakukan, namun keterbatasan data detail dan sesuai ditiap daerah menjadi kendala yang sering ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan daerah rawan longsor menggunakan metode berjenjang tertimbang dan metode slope morphology (SMORPH) serta membandingkan akurasi kedua metode tersebut. Metode berjenjang tertimbang dan SMORPH dalam pengolahannya melakukan overlay dengan parameter dan acuan kelas tingkat kerawanan yang berbeda. Data kemiringan lereng, penggunaan lahan, curah hujan, jenis tanah dan batuan digunakan pada metode berjenjang tertimbang, sedangkan kemiringan lereng dan curvature pada metode SMORPH. Aspek pengumpulan data terdiri dari data penginderaan jauh berupa citra SPOT 6, survei lapangan untuk validasi penggunaan lahan, dan instansi pemerintah berupa data parameter serta kejadian longsor. Perbandingan kedua metode berdasarkan persentase kesesuaian dan distribusi kelas kerawanan longsor terhadap kejadian longsor. Berdasarkan hasil penelitian, peta kerawanan longsor metode berjenjang tertimbang Kecamatan Dlingo, Imogiri dan Piyungan memiliki persentase kesesuaian untuk sesuai 92,85% dan tidak sesuai 7,15%. Sementara metode SMORPH memiliki persentase sesuai 80,35% dan tidak sesuai 19,65%. Metode berjenjang tertimbang memetakan kerawanan longsor lebih reliabel dibandingkan SMORPH karena persentase kesesuaian yang lebih tinggi serta distribusi kelas kerawanan yang logis.
Dlingo, Imogiri and Piyungan sub-districts are the sub-districts with the highest landslide incidence in Bantul Regency in 2012-2019. Areas with sloping to very steep topography are dominated by hills as well as several other characteristics cause this area is often hit by landslides. Mapping of landslide-prone areas needs to be done, but the limitations of detailed and appropriate data in each area are obstacles that are often found. The purpose of the study are mapping landslides area using tiered weighted method and slope morphology (SMORPH) method and to compare the accuracy of the two methods. The tiered weighted method and SMORPH in the processing carry out the overlay process, the difference are the parameters and the reference for grading the level of vulnerability. Slope, land use, rainfall, soil and rock types were used in the tiered weighted method, while the slope and curvature data were used in the SMORPH method. Aspects of data collection consisted of remote sensing namely SPOT 6 images, field surveys for land use validation, and government agencies in the form of parameter data and landslide events. Comparison of the two methods based on the percentage of suitability and distribution of landslide susceptibility classes to landslide events. Based on the results of the study, the landslide susceptibility map using the tiered weighted method in the Sub-Districts of Dlingo, Imogiri and Piyungan has a percentage of alignment class 92.85% and 7.15% not alignment. Meanwhile, the SMORPH method has a percentage of alignment 80.35% and 19.65% not alignment. The tiered weighted method of mapping landslide susceptibility is more reliable than SMORPH because it has a higher percentage of alignment and a logical distribution of vulnerability classes.
Kata Kunci : Berjenjang Tertimbang, Kerawanan Longsor, SMORPH, Penginderaan jauh, Sistem Informasi Geografi.