Kelompok yang Termarjinalkan: Terciptanya Ruang Bersama Sebagai Alternatif Untuk Berekspresi (Lahirnya Geng Sekolah: Studi Kasus SMA di Yogyakarta)
GALANG DWI PUTRA, Dr. Agung Wicaksono, S.Ant., M.A.
2021 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYAPasca runtuhnya rezim Orde Baru banyak anak muda mendirikan kelompoknya sebagai bentuk ekspresi diri. Pada mulanya geng pelajar di Yogyakarta tumbuh di pertengahan kota namun pada tahun 2006 pertumbuhan geng pelajar semakin meningkat. Berjalannya waktu, beberapa geng pelajar bubar akibat tidak adanya regenerasi berkelanjutan, namun di samping itu ada beberapa sekolah yang masih bertahan hingga sekarang. Untuk menelusuri jejak serta bagaimana geng pelajar meregenerasi anggotanya maka penelitian ini memilih kedua sekolah yang telah berdiri sekitar dua dekade lamanya yaitu, SMA Merdeka (sekolah swasta) & SMA Jawara (sekolah negeri). Selain itu kedua sekolah ini memiliki perbedaan seperti: kelas sosial, infrastruktur, aturan sekolah, dan juga sistem kaderisasi yang memiliki ciri khasnya tersendiri. Maka dari itu penelitian ini berusaha mengulik apa saja perbedaan serta persamaan dari kedua sekolah ini untuk mencari inti permasalahan dalam keberlanjutan geng pelajar serta alasan- alasan lainnya. Untuk memahami konteks dan makna dari tidakan para aktor penelitian ini menggunakan narasumber orang pertama atau alumni geng yang aktif dalam kegiatan geng pelajar untuk menggali informasi lebih dalam. Melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode observasi partisipan dan wawancara mendalam penulis akan menjelaskan proses kaderisasi dari tiap geng pelajar sehingga dapat diketahui apa saja mekanisme yang berlangsung serta doktrinasi apa saja yang dilakukan. Selain itu ini berguna untuk mengetahui apa saja peran dari tiap-tiap aktor dalam mempengaruhi kondisi internal geng pelajar. Kehadiran geng pelajar sebagai entitas kultural juga dipengaruhi oleh beberapa sebab yaitu, kurangnya afeksi dan juga pendisiplinan ketat yang hadir di ruang-ruang sekolah. Melalui pendekatan pendsiplinan Foucault penelitian ini menjabarkan bentuk- bentuk pendisiplinan sekolah. Kaderisasi geng pelajar dan pendisiplinan sekolah adalah dua hal yang mendorong keberlanjutan geng pelajar. Peran serta alumni sebagai aktor yang memegang kunci keberlanjutan geng pelajar lewat ritus-ritus serta doktrinasi yang ada membentuk solidaritas dan nilai-nilai yang di dalamnya. Sedangkan sekolah sebagai bengkel pendisiplinan melakukan cara-cara pendisiplinan yang memarjinalkan pelajar seperti: pembatasan peran anak-anak geng dalam mengikuti kegiatan acara sekolah dan juga diskriminasi terhadap pelajar yang dilakukan oleh beberapa guru. Dengan ini penulis ingin menyatakan bahwa regenerasi geng pelajar terus berlanjut akibat adanya doktrinasi dan ritus-ritus yang dilakukan serta adanya pendisiplinan yang dilakukan sekolah dengan cara yang diskriminatif sehingga mengakibatkan pelajar mencari ruang baru di luar kegiatan sekolah.
After the collapse of the New Order regime, many young people founded their groups as a form of self-expression. At first the student gangs in Yogyakarta grew in the middle of the city but in 2006 the growth of student gangs increased. Over time, some student gangs disbanded due to the lack of sustainable regeneration, but in addition there are several schools that still survive today. To trace the tracks and how student gangs regenerate their members, this study selected two schools that have been around for two decades, namely, SMA Merdeka (private school) & SMA Jawara (state school). In addition, these two schools have differences such as: social class, infrastructure, school rules, and also a regeneration system that has its own characteristics. Therefore, this study seeks to explore the differences and similarities between the two schools to find the core of the problem in the sustainability of student gangs and other reasons. To understand the context and meaning of the actors' actions, this research uses first-person sources or gang alumni who are active in student gang activities to dig deeper information. Through a qualitative approach using the method of participant observation and in-depth interviews, the author will explain the regeneration process of each student gang so that it can be seen what mechanisms are taking place and what doctrine is being carried out. In addition, it is useful to know what are the roles of each actor in influencing the internal conditions of student gangs. The presence of student gangs as cultural entities is also influenced by several reasons, namely, the lack of affection and strict discipline present in school rooms. Through Foucault's disciplinary approach, this research describes the forms of school discipline. Student gang regeneration and school discipline are two things that encourage the sustainability of student gangs. The participation of alumni as actors who hold the key to the sustainability of student gangs through existing rites and doctrines forms solidarity and the values in it. Meanwhile, schools as disciplinary workshops carry out disciplinary methods that marginalize students, such as: limiting the role of gang children in participating in school events and also discriminating against students by several teachers. Hereby the author would like to state that the regeneration of student gangs continues as a result of the doctrines and rites carried out as well as the discipline carried out by the school in a discriminatory way, resulting in students looking for new spaces outside of school activities.
Kata Kunci : Pendisiplinan, Pemuda, Pendidikan, Geng Pelajar, Kekerasan Pelajar, Afeksi