Perancangan Sekolah Alam sebagai Alternatif Pendidikan Sekolah Dasar Bermutu dengan Pendekatan Psikologi Anak
NADA INDANA LAZULFA, Dr. Ing. Ir. E. Pradipto
2021 | Skripsi | S1 ARSITEKTURPendidikan di Indonesia saat ini bisa dibilang cukup tertinggal dari pendidikan di negara-negara tetangga. Siswa-siswi di Indonesia masih sering terpacu dengan nilai, serta peringkat sebagai tolak ukur kesuksesan individu. Padahal, justru kesuksesan paling dipengaruhi oleh bagaimana karakter dari siswa itu sendiri. Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda dan tidak bisa disamakan dalam satu standar. Keberhasilan suatu proses belajar dapat dilihat dari bagaimana siswa mengaplikasikan hasil belajar mereka pada kehidupan nyata. Sistem pembelajaran formal yang ada saat ini dengan duduk di ruang tertutup selama berjam-jam dirasa tak lagi efektif untuk perkembangan siswa. Untuk itu, berbagai alternatif pendidikan mulai bermunculan dengan tetap berpegang pada hakikat belajar, yaitu proses transfer ilmu. Salah satu dari alternatif tersebut adalah Sekolah Alam. Sekolah Alam memadukan unsur-unsur alam yang ada menjadi sebuah guru bagi siswa. Masa sekolah dasar merupakan masa dimana anak tumbuh dan berkembang secara pesat. Di masa ini, mereka mulai memasuki masa peralihan dari usia dini menuju usia yang lebih matang. Perancangan sebuah sekolah untuk anak-anak usia sekolah dasar ini tentunya tidak bisa dibuat ala kadarnya. Seorang arsitek harus mempelajari bagaimana karakteristik pengguna secara mendalam untuk menciptakan suatu desain yang dapat dikatakan berhasil. Untuk itu, diperlukan proses implementasi ilmu tentang hubungan perilaku manusia dengan lingkungannya, atau yang disebut dengan ilmu psikologi dalam merancang sekolah yang tepat untuk mewadahi kegiatan dalam Sekolah Alam. Dengan memadukan metode pembelajaran learning by doing bersama unsur alam, diharapkan dapat menjadi sebuah sistem pendidikan yang baik. Selain siswa dapat memupuk rasa kasih sayang, siswa juga langsung mengalami apa yang mereka pelajari, sehingga masuk ke dalam memori jangka panjang siswa.
Education in Indonesia is currently lagging behind education in neighboring countries. Students in Indonesia are often motivated by grades and rankings as a measure of individual success. In fact, success is most influenced by the character of the students themselves. Every student has different abilities and cannot be equated in one standard. The success of a learning process can be seen from how students apply their learning outcomes in real life. The current formal learning system by sitting in a closed room for hours is no longer effective for student development. For this reason, various educational alternatives have begun to emerge by sticking to the essence of learning, namely the process of knowledge transfer. One of these alternatives is the Nature School. The School of Nature blends existing natural elements into a teacher for students. Elementary school period is a period where children grow and develop rapidly. At this time, they begin to enter a transition period from an early age to a more mature age. The design of a school for elementary school age children cannot be made perfunctory. An architect must study the user's characteristics in depth to create a design that can be said to be successful. For that, a process of implementing knowledge about the relationship between human behavior and the environment is needed, or what is called psychology in designing the right school to accommodate activities in the School of Nature. By combining learning by doing learning methods with natural elements, it is hoped that it can become a good education system. In addition to students being able to cultivate compassion, students also immediately experience what they are learning, so that it enters the long-term memory of students.
Kata Kunci : Pendidikan, Sekolah Alam, Sekolah Dasar, Psikologi. / education, nature school, elementary school, psychology.