Laporkan Masalah

HOMELESSNESS, DOMESTIC VIOLENCE, AND HOUSING POLICY IN LOS ANGELES: A GENDER ANALYSIS

LISTIYANTI JAYA ARUM, Dewi Haryani Susilastuti, Ph.D.

2021 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN AMERIKA

Tunawisma tetap menjadi masalah sosial yang rumit di Amerika Serikat. Meningkatnya jumlah tunawisma setiap tahun telah menciptakan daerah kumuh yang besar. Selain itu, tunawisma perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga membutuhkan perhatian yang intens dari para pembuat kebijakan karena tantangan yang berbeda yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor-faktor yang mendorong perempuan menjadi tunawisma setelah melarikan diri dari kekerasan dalam rumah tangga dan bagaimana pemerintah daerah Los Angeles secara spesifik mengatasi masalah tersebut melalui kebijakan perumahan melalui Los Angeles Homeless Service Authority (LAHSA) tahun 2018 bagi penyintas kekerasan dalam rumah tangga berdasarkan Violence Against Women's Act (VAWA). Dalam perspektif post-nationalist American Studies dan teori Jeff Hearn Men in Public Eye dan Hegemony of Men, penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mendorong para survivor menjadi tunawisma dan apakah kebijakan perumahan LAHSA memadai untuk mengatasi tunawisma perempuan. Penelitian ini menemukan bahwa kurangnya sumber daya keuangan, isolasi dari keluarga dan teman, dan kesalahpahaman tentang kekerasan dalam rumah tangga mendorong perempuan menjadi tunawisma setelah melarikan diri dari kekerasan dalam rumah tangga. Kemudian, kebijakan perumahan bagi penyintas kekerasan dalam rumah tangga oleh LAHSA tidak memadai untuk mengatasi masalah tersebut karena tidak adanya program pemulihan trauma, program pendidikan dan kemandirian finansial, serta pengasuhan anak. Kebijakan perumahan mengesampingkan apa yang dibutuhkan perempuan penyintas karena dominasi dan hegemoni laki-laki di ranah publik, termasuk dalam pembuatan kebijakan.

Homelessness remains to be a complicated social problem in the United States. The rising number of homeless people every year has created a big slum areas. In addition, women's homelessness from domestic violence requires intense attention from the policy makers due to the distinct challenges it possesses. This fleeing domestic violence and how specifically the government of Los Angeles county address the problem through LAHSA's 2018 housing policy for domestic violence survivors under Violence Against Women's Act (VAWA). Under the perspective of post-nationalist paradigm of American Studies and Jeff Hearn's men in the public eyes and the hegemony of men, this research analyzes the factors which push the survivors to become homeless and whether or not LAHSA's housing policy is adequate to overcome women's homelessness. This research figures out that lack of financial resources, isolation from family and friends, and the misconception of domestic violence, push women to become homeless after fleeing domestic violence. Then, the housing policy for survivors of domestic violence survivors by LAHSA is inadequate to address the problem because of the absence of trauma-healing, education and financial, and child-care programs. The housing policy sets aside what women's survivors need due to the domination and hegemony of men in public, including in policy making.

Kata Kunci : Kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap perempuan, tunawisma perempuan, LAHSA./Domestic violence, violence against women, women homelessness, LAHSA

  1. S2-2021-449376-abstract.pdf  
  2. S2-2021-449376-bibliography.pdf  
  3. S2-2021-449376-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2021-449376-title.pdf