DETERMINAN DAN MODEL PENCEGAHAN PERILAKU BERMASALAH PADA REMAJA ANAK PEKERJA MIGRAN INDONESIA MELALUI PROGRAM POSYANDU REMAJA DI KECAMATAN GUMELAR KABUPATEN BANYUMAS
ERI WAHYUNINGSIH, Prof. Dra. R.A. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D; Dr. Tyas Retno Wulan, M.Si; Dr. Dra. Ira Paramastri,M.Si
2021 | Disertasi | DOKTOR ILMU KEDOKTERAN DAN KESEHATANLatar Belakang Remaja dalam keluarga pekerja migran seringkali ditinggalkan dengan peran dan tanggung jawab orang tua yang tidak terselesaikan. Situasi ini berpotensi meningkatkan risiko mereka untuk terlibat dalam perilaku bermasalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil remaja dalam keluarga pekerja migran, perilaku berisiko, faktor risiko, dan upaya pencegahan melalui pendidikan kesehatan. Metode Penelitian dilakukan di 4 desa di Kecamatan Gumelar dengan 81 responden pada tahap identifikasi masalah yang dilakukan secara kuantitatif dengan desain cross-sectional, mengukur perilaku: pola makan, aktivitas fisik, merokok, penyalah gunaan NAPZA, berpacaran, perilaku seksual, kenakalan dan kekerasan, dan tindakan yang berisiko pada kecelakaan. Intervensi dilakukan dalam one-group pre-test and post-test design yang melibatkan 30 peserta dalam pendidikan kesehatan remaja dan diukur dengan skor pre-test dan post-test serta signifikansi praktis melalui nilai D Cohen. Hasil Sebagian besar responden ditinggal ibunya (61%) pada usia 7 tahun (13,6%) selama 7 tahun (13,6). Sebagian besar responden memiliki perilaku bermasalah (80,2%) dan faktor risiko (87,7%). Faktor risiko yang paling berpengaruh adalah teman sebaya (OR = 22,5). Skor tes sebelum dan sesudah intervensi menunjukkan perbedaan yang signifikan (p = 0,00; CI 95%) dan nilai D Cohen sebesar 0,91, menunjukkan intervensi yang efektif. Kesimpulan Perilaku berisiko pada remaja di keluarga pekerja migran dipengaruhi oleh teman sebaya. Langkah preventif dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan kesehatan remaja. Komponen masyarakat diharapkan dapat mendukung remaja untuk mengembangkan hidup sehat.
Background Adolescent in migrant worker families are often left with their parents' unresolved roles and responsibilities. This situation has the potential to increase their risk to engage in problem behavior. This study aimed to identify the profiles of adolescent in migrant worker families, their risk behaviors, risk factors, and efforts to prevent them through health education. Method The study was conducted in 4 villages in Gumelar District, with 81 respondents at the problem identification stage, conducted quantitatively using cross-sectional design, measured 8 behaviors namely: diet, physical activity, smoking, substance abuse, dating, sexual activity, delinquency and violence, and risk to injury behavior. Intervention was conducted in one-group pre-test and post-test design involving 30 participants of an adolescent health education and measured by pre and post test scores and Cohen D score for practical significance. Results Most respondents were left by their mothers (61%) at the age of 7 years (13.6%) with a length of 7 years (13.6). Most respondents have problem behaviors (80.2%) and risk factors (87.7%). The most influential risk factor was peers (OR = 22.5). Pre and post test scores for the interventions showed significant differences (p = 0.00; CI 95%) and 0.91 scores of Cohen D, indicating effective interventions. Conclusions The risky behavior among adolescent in migrant workers families is influenced by peers. Preventive steps can be done by providing adolescent health education. The community component is expected to support youth to develop a healthy life.
Kata Kunci : perilaku bermasalah, anak pekerja migran, Posyandu Remaja, problem behavior, children left behind, Posyandu Remaja