Adaptasi Masyarakat Pada Proses Menghuni di Kawasan Hunian Sementara, Studi Kasus : Hunian Sementara Lere dan Petobo Pascabencana Palu 2018
VIVI NOVIANTI H Y, Dr.Eng. Ir. Ahmad Sarwadi, M.Eng
2021 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAGempa bumi dengan kekuatan 7,4 skala richter yang terjadi di Kota Palu dan sekitarnya pada 28 September 2018 telah memicu terjadinya 2 bencana lainnya yaitu tsunami dan likuifaksi. Bencana ini menyebabkan kerusakan pada 66.926 unit rumah. Pemerintah setempat menetapkan masa tanggap darurat dari 28 Sepetember-26 Desember 2018 untuk pemenuhan kebutuhan dasar berupa penyediaan penampungan dan tempat hunian sementara. Hunian sementara pascabencana yang dibangun dan hingga saat ini masih dihuni adalah hunian sementara Lere dan Petobo. Pada penelitian ini dilakukan grand tour untuk menemukan fenomena apa yang telah terjadi di kawasan hunian sementara lere dan petobo. Grand tour yang telah dilakukan menunjukkan adanya adaptasi yang dilakukan oleh penghuni dalam bentuk perubahan fisik atas hunian sementara di Lere dan Petobo. Penelitian ini bertujuan menemukan wujud adapatsi dan faktor yang mendorong penghuni melakukan perubahan fisik. Serta konsep hunian sementara berdasarkan aspirasi penghuni. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis penjodohan pola dan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menemukan penghuni melakukan perubahan fisik dengan cara penambahan, pengurangan, penggabungan dan penggantian di hunian sementara. Perubahan fisik yang terjadi menunjukkan penghuni melakukan adaptasi aktif. Faktor yang mendorong penghuni melakukan adaptasi adalah untuk memenuhi kebutuhan yang kurang dan tidak terpenuhi. Cara penghuni untuk memenuhi kebutuhannya dipengaruhi oleh jenis hunian, bentuk hunian, dan kondisi lingkungan pascabencana. Berdasarkan masa penggunaan, hunian sementara pascabencana Palu 2018 telah dihuni melebihi masa penggunaan yang seharusnya. Hunian sementara jenis kopel yang penggunaannya 1 tahun atau 2 tahun di nilai penghuni tidak memenuhi kebutuhan kenyamanan dan keamanan. Hunian sementara jenis deret dengan masa penggunaan 2 tahun dinilai penghuni telah memenuhi kebutuhan kenyamanan dan keamanan. Berdasarkan fenomena perubahan fisik pada hunian sementara pascabencana Palu 2018, ditemukan konsep hunian sementara berdasarkan aspirasi penghuni. Konsep kebutuhan pada hunian sementara terdiri atas kebutuhan fisik, kebutuhan privasi, dan kebutuhan pelengkap fungsional.
The 7,4 Richter scale magnitude earthquake happened in Palu on 28 September 2018 had triggered tsunami and soil liquefaction. The event had destroyed 66,926 houses. Local government declared emergency response period of 28 September to 26 December 2018 for providing basic needs such as shelter or temporary housing. Temporary housing in Lere and Petobo are two of post disaster temporary housings that have been built and are still occupied. Grand tour was conducted to identify what phenomena currently occurred in Lere and Petobo temporary housing. Grand tour that had been conducted showed phenomena where people make physical alteration of their temporary housing in Lere and Petobo. This research aimed to find the form of adaptation and factor that encouraged people to make those physical alteration. Furthermore, it will provide temporary housing concept based on the residents aspiration. The approach applied to this study was study case. Pattern match and descriptive analysis were implemented as analysis method. The result showed that the residents make physical alteration of the temporary housing by adding, subtracting, consolidating, and replacing. This physical change is an indication that the residents perform an active adaptation. Factor that encouraged residents to perform adaptation was to achieve the poorly-provided and not-provided needs. How the residents pursue those needs is influenced by the type and design of the housing and the post-disaster environment condition. Based on the occupying period, the 2018 post-disaster temporary housings in Palu have been occupied beyond the ideal period. According to the resident, duplex-type of housing that has been occupied for one year or two years, has not been able to satisfy the comfort and safety needs. In contrast, row-type temporary housing that has been occupied for 2 years has been able to satisfy those needs. Based on the physical alteration of Palu 2018 post-disaster temporary housing and the residents aspiration, this study defines temporary housing concept. The concept of needs in temporary housing consists of physical needs, privacy needs, and functional complimentary needs.
Kata Kunci : bencana, hunian sementara, adaptasi, perubahan fisik