Bahasa religius Nurcholis Madjid dalam perspektif Ludwig Josef Johann Wittgenstein
SYADZALI, Ahmad, Drs. Rizal Mustansyir, M.Hum
2002 | Tesis | S2 Ilmu FilsafatSecara umum, bahasa memiliki manfaat ketika setiap orang berkeinginan untuk mengkomunikasikan isi pikirannya dalam rangka berinteraksi dengan sesama, baik itu dalam hubungan antar individu maupun antar komunitas. Bila ditarik ke dalam fungsi bahasa yang lebih khusus, yaitu dalam konteks keagamaan, maka ia akan memiliki wama lain sesuai dengan ruang lingkup yang ditempatinya. Dalam ha1 ini bahasa menjadi lebih spesifik terarah pada tujuan tertentu, yaitu sebagai sarana mengkomunikasikan pesan-pesan Tuhan, namun lebih spesifik lagi dalam konteks teologis berfungsi sebagai instrumen dalam memperdebatkan berbagai hasil interpretasi terhadap pesan-pesan tersebut. Sedangkan dalam konteks mistis, bahasa berfungsi untuk mengekspresikan pengalaman keagamaan (religious experience), yaitu menerangkan pengalaman tentang kehadiran terhadap yang Imanen, yang juga sekaligus Transenden, atau yang berhubungan dengan penyingkapan yang berkenaan dengan realitas supra inderawi. Kemudian dalam konteks budaya yang mengalami persentuhan dengan agama, maka bahasa berfungsi sebagai instrumen yang mempercepat proses asimilasi dalam interaksi keduanya, sehingga terjadi pertukaranpertukaran istilah baik yang terjadi pada agamz maupun budaya. Adapun pada penelitian ini, secara lebih spesifik objek material kajian nya diarahkan pada bahasa religius, khususnya pada bahasa religius Nurcholish Madjid. Maksud penelitian ini adalah untuk mengungkap model dari bahasa religius yang terdapat dalam pemikiran Nurcholish Madjid. Meskipun menurut beberapa pendapat, pemikiran Nurcholish Madjid dianggap bersifat inklusif, dan anggapan ini pasti berpengaruh juga pada bahasa religiusnya. Sedangkan maksud lainnya dalam penelitian ini adalah untuk memberikan evaluasi kritis terhadap muatan bahasa religius yang terdapat dalam pemikiran Nurcholish Madjid, yang dalam ha1 ini meliputi beberapa pokok pikiran yaitu : (I)Islam dan akar historis, (2) Islam dalam konteks peradaban, (3) Islam dan inspirasi ideologis, (4) Islam dan humanitas," (5) Islam dalam konteks keadilan, (6) Islam dan modernitas, (7) Islam dalam konteks politik, (8) Islam dalam konteks keindonesiaan, (9) Universalitas Islam, (10) Tentang Tuhan, (1 1) Pluralism, (12) Tentang Ahlul kitab. Dalam menganalisis beberapa pokok persoalan di atas maka penulis menggunakan pendekatan language-games sebagai objek formalnya, yang maksudnya adalah untuk melihat posisi bahasa religius Nurcholish Madjid dalam konteks permainan bahasa. Setelah diadakan penelitian, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut : (1) Bahasa religius Nurcholish Madjid dilihat dari perspekti language-games tergolong bahasa religjus yang ambivalen, karena dalam ha1 ini ditemukan beberapa inkonsistensi. (2) Bahasa religius Nurcholish Madjid terkait dengan bahas reljius inklusif, namun dalam konteks ini ia telah melanggar aturan main, karena ia tidak menjalankan fungsi bahasa inklusif sebagaimana lazimnya.
In general, language will be functional when one wants to communicate his idea in interpersonal or intercommunity interaction. Language will have a certain function if it is used in certain scope and context, such as religion. In religious context, language is aimed to a specific purpose that is to be vehicle of communicating God revelation. Moreover, language is aimed to be one of instruments in discussing products of the revelation interpretations in the theological context. Language is also aimed to express the religious experiences, at the same time transcendence, i.e. explaining the presence of the immanent or anything related to discovering insensible reality. In the cultural context that is interrelated with religion, language is aimed to be an instrument speeding up the assimilation of their interactions, so that is pursuing to interchanges among religious and cultural terms. In the current research, the material object of the research is aimed to religious language, to the religious language of Nurcholish Madjid’s specifically. The aim of the research is to discover a model of religious language in Nurcholish Madjid’s thoughts. For some scholar, Nurcholish Madjid’s thought is inclusive: It influences his religious language. Another aim of this research is to give an analytical evaluation of content of religious language of Nurcholish Madjid’s thought. Points of the content are: (1) Islam and its historical roots; (2) Islam in the context of civilization; (3) Islam and its ideological inspiration; (4) Islam and humanity; (5) Islam in the context of justice; (6) Islam and modernity; (7) Islam in the political contexts; (8) Islam in Indonesian context; (9) Islamic universality; (10) on God; (11) Pluralism; and (12) on the People of Book (Ah/ al-Kita6). To analyze the main subjects uses laanguage-games approach. It also serves as formal object of the research aimed to see the religious language of Nurcholish Madjid’s in language games context. The research leads to conclusion that: (1) according to language-games perspective the religious language of Nurcholish Madjid’s is among ambivalent religious languages, because of some inconsistencies in it; (2) the retigious language of Nurcholis Madjid’s relates to inclusive religious language, but he did not go along the rule of games in this context. He did not apply the function of inclusive language as it is.
Kata Kunci : Filsafat Sosial,Bahasa Agama,Nurcholis Madjid, religious language, inclusive language, and language-games