PEMAKNAAN PEKERJA MIGRAN BERMASALAH ATAS KESEJAHTERAAN (STUDI KASUS DI RPTC DKI JAKARTA)
GINOLA TRI SHINDY, Prof. Dr. Susetiawan, S.U.
2021 | Tesis | MAGISTER PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANPenelitian ini akan membahas mengenai pemakanaan kesejahteraan bagi pekerja migran bermasalah yang berada di Rumah Perlindungan Trauma Center Bambu apus DKI Jakarta. Kembalinya pekerja migran bermasalah untuk bekerja di luar negeri secara terus menerus merupakan salah satu strategi dalam mempertahankan hidup dan mencapai keinginan yang diidealkan. Berasal dari masyarakat ekonomi menengah ke bawah mengharuskan pekerja migran berupaya mengangkat status ekonomi keluarga ke tingkat yang lebih baik. Memutuskan untuk bekerja ke luar negeri menjadi pengalaman baru bagi pekerja migran, tidak hanya permasalahan dan resiko yang menjadi ancaman baginya tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pekerja migran tersebut. Dalam penelitian ini, pekerja migran mengartikan bahwa sejahtera ialah memberikan kebahagiaan dan menjamin kelayakan hidup bagi anggota keluarga terkhususnya anak. Materi yang telah didapatkan menjadi sarana dalam memberikan kehidupan yang diidealkan bagi pekerja migran. Meskipun ketercukupan materi yang telah didapatkan oleh pekerja migran tidak menjadikan materi sebagai tujuan dari kehidupan yang diidealkan, pekerja migran tetap memutuskan untuk terus kembali dan bekerja di luar negeri. Sehingga kembalinya pekerja migran bermasalah untuk bekerja ke luar negeri secara berkali-kali bukan untuk memenuhi materi, melainkan dalam rangka memenuhi kebutuhan nonmateri yang keterkaitannya tidak bisa dipisah. Keberhasilan dari anak-anak akan memberikan kebahagiaan pada hidup pekerja migran bermasalah. Pada akhirnya, Subjective Well-Being yang dianggap sebagai pemenuhan akan kebutuhan nonmateri tidak bisa mengabaikan materi dalam pemenuhannya.
This research will discuss Well-Being interpreting for troubled migrant workers who are in the Rumah Perlindungan Trauma Center Bambu Apus DKI Jakarta. The return of troubled migrant workers to work abroad continuously is one strategy for maintaining life and achieving idealized desires. Coming from a lower-middle economic society requires migrant workers to lift the familys financial status to a better level. Deciding to work abroad becomes a new experience for migrant workers, not only for the problems and risks that pose a threat to them but also for the opportunity to improve their quality of life. In this study, migrant workers interpreted that prosperity provides happiness and ensures the viability of life for family members, especially children.The material that has been obtained becomes a means of providing an idealized life for migrant workers. Although the adequacy of the material that migrant workers have obtained does not make material the purpose of an idealized life, migrant workers still decide to continue returning and working abroad. So, the return of troubled migrant workers to work abroad often does not meet material needs but meets the needs of non-mates whose relationships cannot be separated. The success of children will bring happiness to the lives of troubled migrant workers. In the end, subjective well-being, which is considered the fulfillment of nonmatter needs, cannot ignore the material in its fulfillment.
Kata Kunci : Pekerja Migran Bermasalah, Subjective Well-Being, Objective Well-Being,