Kota-kota pantai di Sulawesi Tenggara 1906-1942
RABANI, La Ode, Dr. Bambang Purwanto, MA
2002 | Tesis | S2 SejarahPenelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana dan dalam ha1 apa pelayaran dan perdagangan antarpulau mempengaruhi pertumbuhan kota-kota pantai dan perubahan masyarakat Sulawesi Tenggara tahun 1906-1 942. Pada tahun 1906 secara politik, administratif, dan ekonomi seluruh Sulawesi Tenggara telah dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1942 sebagai batas akhir penelitian karena kekuasaan Belanda di Indonesia berakhir. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari hasil penelusuran arsip kolonial di ANRl Jakarta, melalui internet, dan sejumlah perpustakaan lain di Yogyakarta. Verifikasi dan kritik sumber dilakukan secara cermat, karena sebagian besar sumber arsip tentang Sulawesi Tenggara bercampur dengan Arsip Makassar. Dengan metode itu, telah mempermudah penelitian ini. Untuk menjelaskan masalah penelitian ini, digunakan pendekatan geografis, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini menemukan bahwa kota-kota pantai di Sulawesi Tenggara muncul mengikuti perkembangan pelayaran dan perdagangan antarpulau. Hal itu terbukti dari lima (5) fase perkembangan kota-kota pantai di daerah itu. Fase pertarna berlangsung pada abad XIV - XVII. Pada periode ini kota hanya berkembang di sekitar keraton (di dalam benteng). Fase kedua (1677-1 824), ditandai dengan proses migrasi masuk kelompok sosial dari Bugis, Makassar, Toraja, dan etnis Bajo ke Sulawesi Tenggara. Karena profesinya telah mengembangkan ekonomi di Sulawesi Tenggara, yakni petani, pelayar, dan pedagang antarpulau. Fase ketiga (1 824-1 906), ditandai dengan ekspansi ekonomi yang diikuti dengan kebijakan pada pembukaan jalan, dan membuka keran ekonomi beserta fasilitas pendukungnya. Oleh karena itu, sering terjadi aliansi antara pemerintahan setempat dengan pemerintah Hindia Belanda membangun fasilitas ekonomi dan mengeksplorasi sumber-sumber ekonomi untuk kepentingan kedua belah pihak dalam bentuk pajak dan komoditi tertentu sebagai sumber ekonomi. Fase keempat berlangsung tahun 1906 - 1920-an yang ditandai dengan terjadinya bom komoditas hasil perkebunan dan pertanian, ramainya perdagangan, dan pembukaan pertambangan seperti tambang aspal dan nikel di Sulawesi Tenggara. Perkembangan itu terlihat dari banyaknya jumlah kapal dan perahu yang singgah di pelabuhan Sulawesi Tenggara. Fase ini dapat dikatakan bahwa ekonomi mempercepat pembangunan infrastruktur kota dan terjadinya perubahan orientasi masyarakat yang cenderung mengikuti perkembangan dengan terlibat dalam perdagangan dan pelayaran antarpulau. Perubahan orientasi masyarakat telah membawa perubahan pada pemukiman masyarakat yakni di sekitar pantai hingga pada masa-masa kemudian. Dampaknya jelas, yakni pemukiman lama ditinggalkan dan daerah sekitar keraton tidak berkembang, bahkan mulai ditinggalkan masyarakatnya. Fase kelima perkembangan kota-kota pantai Sulawesi Tenggara berlangsung tahun 1920-an sampai 1942. Fase ini merupakan kelanjutan dari periode sebelumnya. Perkembangan yang terjadi adalah makin ramainya perdagangan komoditas di pelabuhan Sulawesi Tenggara. Pemukiman di sekitar pantai makin padat dan makin banyaknya etnis yang tinggal di Sulawesi Tenggara. Etnis Cina dan beberapa etnis lainnya yang bekerja sebagai birokrat didatangkan ke Sulawesi Tenggara selama periode ini untuk mengisi posisi ekonomi yang tidak dapat diisi oteh penduduk Sulawesi Tenggara seperti tenaga dokter, guru, prajurit, mantri kehutanan, dan sebagainya .
This research was aimed to see how far and how the interisland trading and shipping influenced on the growth of coastal cities and their community in Southeast Celebes area in 1906-1942. In 1906, Southeast Celebes was under control of the Dutch government administration politically as well as economically. The year 1942 was chosen as the last term of this research because in this year the Dutch control was wiped out by Japanese invasion. So there was a great change there. The researcher got some document from the collections of the National Archive of Republic of Indonesia in Jakarta, and the National Library of Jakarta. Besides, the sources were found in some libraries in Yogjakarta. The findings of document could also be done also through internet network that connected with KITLV web site and etc. All sources were verified critically because most of them were mixed between Makassar archives and Southeast Celebes archives. In order to explain the research’s problems, this researcher used geographical, social and economic approach. This work could prove that coastal cities in Southeast Celebes area developed together with grew following the development of interisland trading and shipping. It consisted of five phases developing of coastal cities in this area. The first phase worked between sixteenth and seventeenth century. In this period, the city developed around the palace (keraton). The second (1677-1 824) was characterized by the migration process of SOC;I&g -oup from Buginese, Makassarese, Torajas and Bajos to Southeast Celebes. Grounded on their profession as peasant, fisher and trader, they could take an important part in the interisland economic progression. The third (1 824-1906) was made by economic expansion that followed by the policy of constructing the road and the supporting facilities that so crucial for economy. Therefore, Dutch colonial government often made a cooperation program with native local authority to build many economically important projects and to explore some economic resources for both, especially in the form of tax and some certain commodities as a source of great income. The fourth phase outlines the happened between 1906 and 1920s with the boom of agriculture and farming commodities, the increasing of trade relations, and the progression in mining sector as asphalt and nickel product in Southeast Celebes. This progression could be seen from the continually rising ships and boat that harbored in Southeast Celebes port. In this phase, it could be said that economic progress fastened the developing of city infrastructures and as a result, there was a change in population’s orientation that tended in this process with their partaking in the interisland trading and shipping. The changing of population’s orientation made some changes in community’s quarter pattern, especially for coastal com m unity hereafter. In the fifth phase, coastal cities in Southeast Celebes developed from 1920s to 1942s. This period is an antecedent to the earlier period. The fact that could be found was the rise of trading condition in some ports of Southeast Celebes. The settlement around coast was dense. More different ethnic members lived in Southeast Celebes than before. Chinese and another ethnic groups came as an official bureaucrat to this area in this time. They were important workers to fill the economic cleavage position that could not be done by local population, especially in white collar sectors as doctor, teacher, soldier, forest officer and so on.
Kata Kunci : Kota-kota Pantai, Ekonomi, Pelayaran, Masyarakat, Perubahan, Coastal cities, economy, shipping, society, change