BERENANG SAAT SURUT, BERNAUNG SAAT PASANG: Dampak Pengembangan Ekowisata terhadap Kondisi Sosial dan Ekonomi Masyarakat di Teluk Kiluan
FRANSISKUS DENNY P, Dr. Agung Wicaksono, S.Ant., M.A.
2021 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYAPraktik kepengaturan dilakukan di sebuah desa di kawasan pesisir bernama Teluk Kiluan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Teluk Kiluan dibingkai sebagai wilayah yang terisolasi, tidak berkembang dan miskin. Atas kondisi tersebut, sebuah LSM bernama Yayasan Ekowisata Cikal (YEC) memulai pengembangan ekowisata di Teluk Kiluan. Setelah berjalan, tidak semua masyarakat bisa mendapatkan keuntungan dari praktik ekowisata, sebagian justru tersisihkan dan mengalami eksklusi. Tulisan ini berusaha untuk menjelaskan bentuk-bentuk eksklusi yang terjadi akibat pengembangan ekowisata dan berusaha menjelaskan bentuk perlawanan masyarakat terdampak untuk memperoleh kembali akses yang tertutup.
Governmentality practice were carried out in a small coastal area called Teluk Kiluan, Tanggamus Regency, Lampung Province. Teluk Kiluan is framed as an isolated, undeveloped and poor region. Due to these conditions, an NGO called Yayasan Ekowisata Cikal (YEC) initiated the development of ecotourism in Teluk Kiluan. Not all of the communities can benefit from ecotourism practices, some are marginalized and experience exclusion. This paper attempts to explain the forms of exclusion that occur as a result of the development of ecotourism and to explain the forms of resistance of the affected communities to regain deprived access.
Kata Kunci : kepengaturan, ekowisata, eksklusi, perlawanan