DESAIN MODEL KEMITRAAN PETANI DAN EKSPORTIR PORANG (AMORPHOPHALLUS MUELLERI BLUME) DENGAN PEMANFAATAN HUTAN SOSIAL
TRIASTI WULANDARI, Rika Fatimah, P.L., ST., M.Sc., Ph.D.,
2021 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN (KAMPUS JAKARTA)Porang adalah salah satu komoditas agribisnis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dengan pasar utama luar negeri. Tanaman ini merupakan tanaman liar yang umumnya ditemukan di dalam hutan. Porang sudah dikenal semenjak tahun 1980, namun perkembangannya sangat lambat di Indonesia. Sebagian besar pemenuhan kebutuhan dilakukan dengan penanaman secara tradisional dan pencarian liar. Tanaman ini ideal dibudidayakandibawahtegakkan. Sehingga dapatditerapkan pada lahan hutan lindung dan produksi.Kehutanan sosialdengan akses kelola hutan legal yang diberikan kepada masyarakat hutan dan sekitar hutan dapat menciptakan peluang bagi pemenuhan kebutuhan pasar sekaligus keberlanjutan usaha. Namun, sampai saat ini belum ada kemitraan antara eksportir atau produsen dengan pembudidaya. Penelitian ini ditujukkan untuk menyusunmodelkemitraanantara eksportir atau produsen dengan pembudidaya. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan menganalisa faktor penghambat yang dihadapi untuk diketahui apa faktor penghambat utama untuk kemudian dilakukan rancang model kemitraan. Penyusunan model selain dari literasi juga didasarkan dari pengukuran kuesioner dan hasil wawancara dengan harapan model tersebut mampu menyelesaikn faktor penghambat. Hasil menunjukkan bahwa faktor penghambatyangdihadapiyaitu, pengetahuan dan pengalaman, ketersediaan bibit, mahalnya harga bibit, penggunaan teknologi, luasan lahan garapan, modal serta kemampuan mengelola sumber daya atau manajemen. Faktor teknologi adalah faktor penghambat utama yang dihadapi oleh pembudidaya selanjutnya diikuti dengan modal, manajemen, pengalamanm luasan lahan, pengetahuan, ketersediaan bibit dan harga bibit. Model kemitraan yang dapat diimplementasikan dalam kehutanan sosial yaitu contract farming multivariate dengan peran perusahaan sebagai penghela serta diperlukan adanya peran litbang dan universitas untuk mengembangkan teknologi agar bisa memberikan manfaat bagi pengembangan porang.
Porang is one of the agribusiness commodities that has high economic value with major overseas markets. This plant is a wild plant commonly found in forests. Porang has been known since 1980, but development is very slow in Indonesia. Most of the fulfillment of needs is done by traditional planting and wild search. This plant is ideally cultivated under the tree stands. It can be applied to protected forest land and production. Social forestry with access to legal forest management provided to forest communities to create opportunities in the the fulfillment of market needs as well as business sustainability. However, to date there has been no partnership between exporters or producers with cultivators (farmers). This research is intended to develop a model of partnership between exporters or producers with farmers. The approach is to analyze the inhibitory factors, to know what are the main inhibitory factors then design a partnership model. The design model start with literacy review, questionnaires and data from interview. The result of the model expected can be able to complete the inhibitory factors. The results showed that the inhibitory factors are, knowledge and experience, availability of seedlings, expensive price of seedlings, use of technology, area of arable land, capital and the ability to manage resources or management. Technology factors are the main inhibitory factors faced by farmers followed by capital, management, land area, experience, knowledge, availability of seedlings and seed prices. Partnership model that can be implemented in social forestry is contract farming multivariate with the role of the company as a intermediatery and the role of R&D and universities to develop technology in order to provide benefits for the development of porang.
Kata Kunci : porang, kehutanan sosial, kemitraan, contract farming