Nederlandsch Indische Artsenschool :: Perubahan sosial dalam komunitas sekolah dokter di Surabaya (1913-1942)
SUPARWOTO, Prof.Dr. Djoko Suryo
2002 | Tesis | S2 SejarahPenelitian ini difokuskan pada sekolah dokter di Surabaya, Nederlandsch lndische Artsenschool (N IAS) yang berlangsung dari tahun 1913 sampai 1942. Masalah yang diteliti ialah alasan NlAS didirikan di Surabaya, latar belakang pembentukan NlAS dan perubahan sosial yang terjadi dalam kalangan siswa NlAS (pribumi). Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan melakukan penelitian perpustakaan dan penelitian arsip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Surabaya ditunjuk sebagai tempat sekolah dokter yang kedua (NIAS) disebabkan oleh kondisi obyektif kota tersebut yang menuntut adanya sekolah dokter. Kondisi itu ialah bahwa di bidang pendidikan, pelbagai sekolah dari tingkat dasar sampai menengah baik umum maupun kejuruan telah sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja untuk pemerintahan, perdagangan, industri, maritim, militer dan lain-lain; tetapi suatu lembaga pendidikan yang dapat menghasilkan tenaga dokter untuk memenuhi kebutuhan instansi-instansi baik negeri maupun swasta pada khususnya dan rakyat pada umumnya belum ada. Surabaya sebagai kota yang berpenduduk heterogen, padat dan penuh dengan kesibukan di pelbagai bidang sudah semestinya harus memiliki sekolah dokter. Latar belakang pembentukan NlAS pada tahun 1913 karend kurangnya tenaga dokter terutama dirasakan pada waktu terjangkit wabah penyakit. Pada tahun 1901 di Jawa perbandingan dokter dengan penduduk yang dilayaninya 1 : 560.000. Para siswa NIAS (pribumi) yang dipandang sebagai suatu komunitas mengalami suatu perubahan. Dari aspek politik NIAS menumbuhkan kesadaran nasional. Kesadaran itu dimanifestasikan dalam bentuk organisasi pergerakan pemuda. Siswa NlAS selalu menjadi pemimpin pergerakan pemuda dan merupakan anggota terbanyak , misalnya Jong Java dan Indonesia Muda. Alumni NlAS banyak yang berjiwa nasionalis dan patriotik yang terus berjuang untuk bangsa dan tanah air. Dari aspek sosial-ekonomis, perubahan sosial nampak pada adanya mobilitas sosial baik horisontal maupun vertikal. Disebut mobilitas horisontal karena dari keluarga priyayi yang umumnya berprofesi sebagai administratur pemerintahan beralih ke profesi kejuruan medis; sedangkan mobilitas vertikal karena kedudukan dan penghasilan anak lebih tinggi dari pada kedudukan yang pernah dicapai oleh ayahnya. Suatu perubahan sosial lainnya ialah masuknya wanita pribumi dalam pendidikan medis (NIAS). Meskipun prosentasenya masih sangat kecil (1,5 % pada tahun 1934) namun telah menunjukkan adanya gerakan emansipasi wanita Indonesia. Dari segi kultural perubahan sosial nampak pada perubahan sikap, perilaku dan gaya hidup antara lain dalam pemakaian bahasa pergaulan, cara duduk, cara berpakaian, perawatan kesehatan, kesenian dan olah raga yang kesemuanya banyak diambil dari cara hidup Barat, meskipun demikian mereka tetap menyukai kebudayaan sendiri.
This research is focused in medical school in Surabaya, the Nederlandsch lndische Artsenschool ( hereafter N IAS), which lasted from 1913 until 1942. The research questions are why NIAS was founded in Surabaya, the background of establishment and the social change happened among the native students of NIAS. The research used the historical method by using the library and document research. The result of the research stated that why Surabaya appointed the second medical school, because the objective condition of that city needed a medical school. The condition that every school from basic level until intermediate (both general and vocational) at that time had already met the needs of man power government, trade, industry, maritime, etc. But the educational institutions which could produce doctors fulfilling the need of the same state and private companies hadn’t existed yet in Surabaya, as the heterogenous, populous city and full of activities in every aspect had to possess a medical school. The background of NlAS establishment in 1913 based on the lack of doctors especially when there was an epidemic. In 1901 the comparison between doctors and the population in Java is 1 : 560.000. The native student of NlAS were considered as the community who underwent of change. From political NlAS had planted national awareness. The awareness was manifesed in the form of the youth movement organizations. The student of NlAS always became the leaders of the young movement and had dominated the number of members such as Jong Java and Indonesia Muda. Many of NIAS alumni were patriotic and nationalist who kept struggling for their nation and country. From the sosial-economic aspect, social change appeared from the existance of social mobility both horizontally and vertically. We call horizontal mobility when the noblemen, were generally the government administractors changed their profesion, doctors, whereas, vertical mobility because income and the position of chilfdren were higher than their father had already rached. Another change, when the native women entered NIAS. Although the percentage (1,5% in 1934) was very low but had shown the women emancipation movement in Indonesia. From cultural side, social change appeared in the change of behavior, attitude and life style such as the using of colloqial language, sitting style, dressing, health treatment, art and sport which most of them were adopted from western style, however they still loved their own culture.
Kata Kunci : Sejarah Indonesia, Sekolah Dokter di Surabaya, 1913, 1942