PERBANDINGAN PENGARUH JAHITAN ANTARA BENANG POLYGLECAPRONE 25 DAN NYLON DENGAN TEKNIK SMALL STITCH KONTINYU TERHADAP TINGKAT RASIO KOLAGEN TIPE 1 DAN 3 PADA GARIS INSISI KULIT ABDOMEN TIKUS GALUR WISTAR (Rattus norvegicus)
YESSY MARTHA SARI, dr. Imam Sofii, Sp.B-KBD.; Prof. Dr.dr. Yohanes Widodo W., Sp.KK(K)
2021 | Tesis-Spesialis | ILMU BEDAHLatar belakang: Dehisensi luka operasi merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pasca insisi dinding abdomen dan memiliki tingkat kejadian rekurensi yang tinggi yang tinggi. Material benang dan metode penjahitan yang digunakan juga menjadi faktor penting dalam kejadian dehisensi luka operasi. Faktor rasio kolagen tipe 1 dan 3 berperan penting pada proses penyembuhan luka. Tujuan: Membandingkan pengaruh teknik penjahitan small stitch kontinyu pada penggunaan benang polyglecaprone 25 dan benang Nylon terhadap tingkat rasio kolagen tipe 1 dan 3 pada garis insisi kulit abdomen tikus albino galur wistar (Rattus norvegicus). Metode: Empat puluh tikus dibagi ke dalam empat kelompok. Kelompok 1 dan 3 mendapat jahitan dengan dengan benang polyglecaprone 25. Kelompok 2 dan 4 mendapat jahitan dengan benang Nylon. Kemudian kelompok 1 dan 2 dibunuh pada hari ke 4, sedangkan kelompok 3 dan 4 dibunuh pada hari ke 7. Dilakukan pemeriksaan kolagen tipe 1, kolagen tipe 3 dan rasio kolagen tipe 1 dan 3. Setelah dibunuh, diambil sampel kulit seluas 5x10mm diperoleh total 40 sampel untuk dilakukan analisis jumlah kolagen 1 dan 40 sampel untuk kolagen 3 menggunakan metode pengecatan imunohistokimia. Penghitungan ekspresi kolagen tipe 1 dan 3 dilakukan dengan analysis berbasis gambar dengan software Adobe Photoshop CC 2017. Perbedaan dianalisa dengan Mann-Whitney bila data tidak terdistribusi secara normal dan T-test Independent bila data terdistribusi secara normal. Hasil: Tidak terdapat perbedaan signifikan rasio kolagen tipe 1 dan 3 pada kelompok tikus pasca dekapitasi pada hari ke 4 dengan teknik small stitch kontinyu menggunakan benang polyglecaprone 25 dan nylon [(0,68+-0,16) vs (0,67+-0,16) p= 0,853] namun terdapat perbedaan signifikan pada hari ke 7 [(1,43+-0,47) vs (0,94 +-0,39) p= 0,021]. Kesimpulan: Ekspresi rasio kolagen tipe 1 dan 3 pada tikus yang dijahit dengan metode small stitch kontinyu menggunakan benang polyglecaprone 25 lebih tinggi dibandingkan dengan benang Nylon. Penggunaan benang polyglecaprone 25 lebih direkomendasikan dalam penjahitan kulit abdomen karena menunjukkan rasio tingkat kolagen 1 banding kolagen 3 yang lebih tinggi, sehingga semakin memperkecil kemungkinan terjadinya dehisensi luka pasca operasi.
Latar belakang: Dehisensi luka operasi merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pasca insisi dinding abdomen dan memiliki tingkat kejadian rekurensi yang tinggi yang tinggi. Material benang dan metode penjahitan yang digunakan juga menjadi faktor penting dalam kejadian dehisensi luka operasi. Faktor rasio kolagen tipe 1 dan 3 berperan penting pada proses penyembuhan luka. Tujuan: Membandingkan pengaruh teknik penjahitan small stitch kontinyu pada penggunaan benang polyglecaprone 25 dan benang Nylon terhadap tingkat rasio kolagen tipe 1 dan 3 pada garis insisi kulit abdomen tikus albino galur wistar (Rattus norvegicus). Metode: Empat puluh tikus dibagi ke dalam empat kelompok. Kelompok 1 dan 3 mendapat jahitan dengan dengan benang polyglecaprone 25. Kelompok 2 dan 4 mendapat jahitan dengan benang Nylon. Kemudian kelompok 1 dan 2 dibunuh pada hari ke 4, sedangkan kelompok 3 dan 4 dibunuh pada hari ke 7. Dilakukan pemeriksaan kolagen tipe 1, kolagen tipe 3 dan rasio kolagen tipe 1 dan 3. Setelah dibunuh, diambil sampel kulit seluas 5x10mm diperoleh total 40 sampel untuk dilakukan analisis jumlah kolagen 1 dan 40 sampel untuk kolagen 3 menggunakan metode pengecatan imunohistokimia. Penghitungan ekspresi kolagen tipe 1 dan 3 dilakukan dengan analysis berbasis gambar dengan software Adobe Photoshop CC 2017. Perbedaan dianalisa dengan Mann-Whitney bila data tidak terdistribusi secara normal dan T-test Independent bila data terdistribusi secara normal. Hasil: Tidak terdapat perbedaan signifikan rasio kolagen tipe 1 dan 3 pada kelompok tikus pasca dekapitasi pada hari ke 4 dengan teknik small stitch kontinyu menggunakan benang polyglecaprone 25 dan nylon [(0,68+-0,16) vs (0,67+-0,16) p= 0,853] namun terdapat perbedaan signifikan pada hari ke 7 [(1,43+-0,47) vs (0,94 +-0,39) p= 0,021]. Kesimpulan: Ekspresi rasio kolagen tipe 1 dan 3 pada tikus yang dijahit dengan metode small stitch kontinyu menggunakan benang polyglecaprone 25 lebih tinggi dibandingkan dengan benang Nylon. Penggunaan benang polyglecaprone 25 lebih direkomendasikan dalam penjahitan kulit abdomen karena menunjukkan rasio tingkat kolagen 1 banding kolagen 3 yang lebih tinggi, sehingga semakin memperkecil kemungkinan terjadinya dehisensi luka pasca operasi.
Kata Kunci : polyglecaprone 25, Nylon, kolagen tipe 1, kolagen tipe 3, rasio kolagen tipe 1 dan 3, small sticth kontinyu, polyglecaprone 25, Nylon, collagen type 1, collagen tipe 3, collagen type 1 and 3 ratio, continue small sticth