Laporkan Masalah

Pembangunan Jalan Darat dan Ekspansi Kolonial di Pesisir Barat Kalimantan 1854-1930an

ANY RAHMAYANI, Prof. Dr. Bambang Purwanto, MA

2021 | Tesis | MAGISTER SEJARAH

Penelitian ini membahas tentang pembangunan jalan dalam rangka ekspansi kolonial di pesisir barat Kalimantan. Secara khusus, studi ini mengkaji tentang ide dan mekanisme pembangunan jalan pesisir. Studi ini juga bertujuan untuk melihat pergeseran orientasi jalur perhubungan air menuju ke jalur perhubungan darat. Oleh karenanya, studi ini melibatkan pemerintah kolonial, penguasa kerajaan pesisir dan penduduk sebagai pelaku penting dalam pembangunan jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan jalan berlangsung dalam dua periode. Periode pertama, periode ekspansi militer dan politik paruh kedua abad ke-19. Periode ini berfokus pada tujuan untuk mempermudah pengawasan dan mobilisasi pasukan setelah penaklukan kongsi Cina. Jalan menghubungkan garnisun dan kantor-kantor pemerintahan yang berada di sepanjang pesisir dan bekas pusat-pusat perlawanan kongsi Distrik Cina. Secara politik, ekspansi terlihat pada pelibatan penduduk dalam pembangunan jalan terlihat dalam kerja wajib. Kerja wajib pada awalnya dilakukan oleh orang-orang Cina di wilayah bekas Distrik Cina. Selanjutnya, kontrak politik dengan para penguasa pesisir memunculkan kerja wajib bagi penduduk yang pengelolaannya dibebankan kepada para penguasa daerah otonom tersebut. Periode kedua ditandai dengan pembangunan jalan dalam rangka ekspansi ekonomi di akhir abad ke-19-awal abad ke-20. Perluasan dan perbaikan jalan pesisir menjadi prioritas utama pemerintah kolonial untuk memperkuat jaringan pelabuhan dan perkebunan-perkebunan di awal abad ke-20. Pengerjaan jalan pesisir merupakan proyek pengembangan dari embrio jalan yang telah ada dan pembangunan jaringan jalan yang terputus. Penyelenggaraan pembangunan jalan menunjukkan bahwa jalan yang dibangun tidak memiliki pengaruh signifikan bagi penduduk pesisir barat Kalimantan. Hal ini terjadi karena ketidakmatangan rencana pembangunan yaitu (1) jalan dibangun tidak dengan baik mengabaikan kondisi alam (2) biaya pembangunan dan perawatan yang mahal, serta (3) jalan dibangun di wilayah dengan kondisi ekonomi yang bergantung pada harga pasar produk niaga yang fluktuatif. Adapun respon penduduk terhadap pembangunan jalan terlihat dalam 2 hal, (1) penerimaan penduduk pada ide-ide modernitas yang dibawa oleh jalan dan (2) konflik dan resistensi berupa kerusuhan akibat keberatan atas sistem kerja-wajib umum serta kritik terhadap pajak, pungutan dan pengelolaan jalan.

This study discusses the construction of roads in colonial expansion on the west coast of Kalimantan. In particular, this study examines the ideas and mechanisms of coastal road development. This study also aims to explain the change of water connection orientation toward land connection. Therefore, to analize this topic, the colonial government, the rulers of the coastal kingdom, and the population are entangled as agent of road contruction. The results show that road construction took place in two periods. The first period was the military and political expansion of the second half of the 19th century. This period focused on facilitating the surveillance and mobilization of troops after the conquest of the Chinese Kongsi (group) on the west coast of Kalimantan. The road connected the garrison and government offices which are lied along the coast and at the former Kongsi resistance centers of the Chinese District. Involvement of people in the road constructions was showed in the kerja wajib which is originally done by Chinese in the former Chinese District. Hereafter, the political engagement between the colonial governments with the coastal rulers led to kerja wajib for the Malay and Dayak who were the servants of the coastal rulers. The second period was marked by the construction of roads in the context of economic expansion in the late 19th-early 20th centuries. The expansion and repair of the coastal roads had become a top priority for the colonial governments in order to strengthen the port network and to facilitate entrepreneurs who invested in plantations and mining. However, the road constructions which were conducted during this period did not show a significant impact on the population of the west coast of Kalimantan. This happened as a result of the immaturity of the development plan, namely (1) ignoring natural conditions (2) expensive construction and maintenance costs, and (3) roads were built in areas with economic conditions that depend on fluctuating market prices for commercial products. The response of the population to road constructions could be seen in (1) the acceptance of the population towards the idea of modernity brought by the road and (2) conflict and resistance in riots due to objections to the public kerja wajib system and criticism of taxes, levies, and road management.

Kata Kunci : jalan, pesisir barat Kalimantan, ekspansi kolonial/road, west coast Kalimantan, colonial expansion

  1. S2-2021-434548-abstract.pdf  
  2. S2-2021-434548-bibliography.pdf  
  3. S2-2021-434548-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2021-434548-title.pdf