Analisis Perbandingan Potensi Kebangkrutan Perusahaan Pertambangan Milik Negara (BUMN) Dengan Perusahaan Pertambangan Milik Swasta (Non BUMN) yang Terdaftar di BEI Tahun 2018 - 2019 Menggunakan Model Altman Z-Score
FAUZAN QAMAAR, Drs. Achmad Choiruman, M.C., M.Si
2021 | Tugas Akhir | D3 MANAJEMENIndustri pada sektor pertambangan merupakan industri yang berpengaruh dan memegang peran penting untuk pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Industri ini merupakan sektor strategis yang harus ditumbuh kembangkan karena prospeknya yang sangat menjanjikan di negeri ini. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi, menganalisis dan mengetahui tingkat potensi kebangkrutan suatu perusahaan dengan menggunakan metode multiple discriminant analysis Altman Z-Score pada perusahaan BUMN maupun BUMS pada sektor pertambangan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memberi tau solusi dan antisipasi yang berdasarkan atas hasil analisis diskriminan sesuai dengan model Altman Z-Score ini. Analisis diskriminan yang dilakukan pada penelitian ini adalah untuk memprediksi resiko kebangkrutan pada perusahaan BUMN dan BUMS pada sektor pertambangan pada periode 2018 sampai 2019. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif, jenis data yang kuantitatif, sumber data sekunder (diambil di https://www.idx.co.id dan website resmi perusahaan), pengumpulan data yang digunakan adalah secara dokumentasi dengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 perusahaan BUMN (Bukit Asam Tbk, Aneka tambang Tbk dan Timah Tbk) dan 4 perusahaan BUMS ( Cita Mineral Investindo Tbk, Golden Eagle Energy Tbk, Elnusa Tbk dan Radiant Utama Interinsco Tbk) pada tahun 2018, terdapat 3 perusahaan berada dalam kondisi distress (tidak sehat) dengan nilai Z-Score yang kecil dari 1,23 dan 4 rawan kebangkrutan (grey area) dengan nilai Z-Score yang berada antara 1,23 dan 2,9. Sedangkan pada tahun 2019 terdapat 2 perusahaan yang berada pada kondisi distress, 4 perusahaan yang berada peda kondisi grey area serta satu perusahaan yang berada dalam kondisi sehat (tidak adanya indikasi bangkrut). Indikasi-indikasi yang diklasifikasikan pada setiap perusahaan adalah berdasarkan hasil Z-Score yang diperoleh menggunakan variabel-variabel terkait. Variabel-variabel tersebut adalah Working Capital to Total Assets (X1), Retained Earnings to Total Assets (X2), Earning Before Interest and Taxes to Total Assets (X3), Market Value of Equity to Book Value of Debt (X4) dan Sales to Total Assets (X5). Dari hasil menggunakan model Altman Z-Score pada perusahaan sektor pertambangan BUMN maupun BUMS, rata-rata perusahaan masih dikategorikan untuk susah dalam menangani masalah keuangannya. Nilai Z-Score yang kecil tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti menurunnya pendapatan perusahaan, tingkat hutang perusahaan yang semakin tinggi serta modal kerja yang dihasilkan oleh perusahaan yang tidak stabil pada setiap tahunnya.
Industry in the mining sector is an influential industry and plays an important role for economic growth in Indonesia. This industry is a strategic sector that must be developed because the prospects are very promising in this country. This study aims to predict, analyze and determine the level of potential bankruptcy of a company by using the method multiple discriminant analysis Altman Z-Score BUMN and BUMS in the mining sector. In addition, this study also aims to provide solutions and anticipations based on the results of discriminant analysis according to the Altman Z-Score model. The discriminant analysis conducted in this study is to predict the risk of bankruptcy in BUMN and BUMS companies in the mining sector in the period 2018 to 2019. This study uses a descriptive approach, quantitative data types, secondary data sources (taken in https://www.idx.co.id and the company's official website), the data collection used is documentation with descriptive analysis techniques. The results showed that 3 BUMN companies (Bukit Asam Tbk, Aneka mining Tbk and Timah Tbk) and 4 BUMN companies (Cita Mineral Investindo Tbk, Golden Eagle Energy Tbk, Elnusa Tbk and Radiant Utama Interinsco Tbk) in 2018, there were 3 companies in distress (unhealthy) with a small Z-Score of 1.23 and 4 prone to bankruptcy (grey area) with a Z-Score of 1.23 and 2.9. Meanwhile, in 2019 there were 2 companies that were in distress, 4 companies that were in a condition gray area and one company that was in a healthy condition (no indication of bankruptcy). Indications that are classified in each company are based on the results of the Z-Score obtained using the related variables. These variables are Working Capital to Total Assets (X1), Retained Earnings to Total Assets (X2), Earning Before Interest and Taxes to Total Assets (X3), Market Value of Equity to Book Value of Debt (X4) and Sales to Total Assets (X5). From the results of using the Altman Z-Score model for state-owned and BUMS mining sector companies, the average company is still categorized as having difficulty dealing with financial problems. The small Z-Score value is caused by several factors such as declining company income, higher corporate debt levels and unstable working capital generated by the company every year.
Kata Kunci : Bankruptcy, Altman Z-Score Method, Mining, BUMN, Non BUMN