Laporkan Masalah

MODEL POPULISME PADA POLITIK KAMPANYE TRUMP: Analisis Isi terhadap Arsip Tweet dan Pidato Kampanye Donald J. Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 dan 2020

NABILA ULVA A, Dr. Rer. Pol. Mada Sukmajati, S.IP., M.P.P.

2021 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Populisme mulai tumbuh subur pada abad ke-21. Salah satu aktor populis yang paling berpengaruh ialah Donald J. Trump, seorang kandidat Partai Republik pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016. Kemunculan nya sebagai tokoh di luar politik tradisional cenderung menuai kontroversi yang merupakan peristiwa unik dalam dunia politik kontemporer global. Trump sebagai simbol kebangkitan populisme kontemporer merupakan sesuatu yang patut dikaji dalam rangka memperkaya literatur populisme pada ilmu politik. Penelitian ini akan membahas mengenai model populisme yang digunakan oleh aktor politik Donald J. Trump serta faktor-faktor yang menyebabkan kemenangan sekaligus kekalahannya dengan menggunakan narasi yang sama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif metode analisis isi untuk membedah bagaimana sebuah konten dapat mencerminkan narasi populisme yang digunakan oleh Trump. Penelitian ini akan berfokus pada periode kampanye Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 dan 2020 dikarenakan periode tersebut merupakan simbol kebangkitan populisme kontemporer dan juga adanya transisi politik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Trump menggunakan populisme pada dua periode kampanye. Merujuk pada teori Gidron dan Bonikowski, model populisme yang digunakan Trump bersifat tumpang tindih dengan terjadi adanya transisi model dominan pada kedua periode kampanye. Faktor yang menyebabkan kemenangan Trump pada tahun 2016 adalah adanya gerakan tea party sebagai pendukung narasi populisme. Sementara, faktor yang menjadi penyebab kekalahan Trump di tahun 2020 adalah kegagalan Trump dalam memetakan krisis serta kebijakan untuk menanganinya. Penelitian ini pun menemukan bahwa retorika populisme yang dibawa oleh Trump tidak benar-benar gagal melihat dari jumlah suara populer yang justru meningkat dibandingkan pada tahun 2016. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat Trump berhasil melanjutkan masa jabatannya sebagai Presiden Amerika Serikat.

Populism began to flourish in the 21st century. One of the most influential populist actors is Donald J. Trump, a Republican candidate in the 2016 United States Presidential Election. His appearance as a figure outside traditional politics tends to generate controversy, a unique event in contemporary global politics. As a symbol of the rise of modern populism, Trump deserves to be studied to enrich the literature on populism in political science. This study will discuss the populism model used by political actor Donald J. Trump and the factors that led to his victory and defeat using the same narrative. This study uses a qualitative approach to content analysis methods to dissect how content can reflect the populism used by Trump. This study will focus on the 2016 and 2020 United States Presidential Election campaign period because it symbolizes the rise of contemporary populism and a political transition. The results of this study indicate that Trump used populism in two campaign periods. Referring to the theory of Gidron and Bonikowski, the populism model used by Trump is overlapping, with the shift of dominant models in the two campaign periods. The factor that led to Trump's victory in 2016 was the tea party movement to support the narrative of populism. Meanwhile, the element that caused Trump's defeat in 2020 was Trump's failure to map the crisis and policies to deal with it. The study found that Trump's populist rhetoric did not fail to see that the number of popular votes had increased compared to 2016. However, it did not make Trump successful in continuing his term as President of the United States.

Kata Kunci : Populisme, Donald Trump, Pemilihan Presiden

  1. S1-2021-414936-abstract.pdf  
  2. S1-2021-414936-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-414936-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-414936-title .pdf