STRATEGI PENGELOLAAN EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT DI BUKIT PANGUK, RPH MANGUNAN KPH YOGYAKARTA
AHMAD RAIHAN FAUZI, Wiyono, S.Hut., M.Si.
2021 | Tugas Akhir | D3 PENGELOLAAN HUTANPeguatan dari semua aspek di operator Bukit Panguk diperlukan untuk menjawab peluang dan tantangan yang ada demi meningkatkan pengelolaan ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek kelola lembaga, kelola kawasan dan kelola usaha di Bukit Panguk, menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (S.W.O.T) yang ada di Bukit Panguk, serta merumuskan strategi pengelola di masa pandemi covid-19. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara, kuesioner, observasi lapangan dan kajian dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan Bukit Panguk memiliki badan hukum berupa Koperasi Noto Wono. pendeskripsian pengelolaan kawasan wisata dari aspek kelola kelembagaan ditinjau dari legalitas, sejarah, keanggotaan, wewenang, sanksi program yang dilaksanakan dan aset. Aspek kelola kawasan ditinjau dari status kawasan, tata kelola dan batas kawasan, potensi, rencana kegiatan pengelolaan, kendala dan konflik pengelolaan kawasan, evaluasi dan laporan pertanggung jawaban. Aspek kelola usaha ditinjau dari spot foto, koperasi, usaha warung, parkir, tenaga kerja dan persepsi pengunjung. Kelebihan yang dimiliki adalah anggota memiliki semangat tinggi, panorama alam, rasa kekeluargaan tinggi. Kelemahan yang dimiliki hampir setengah anggota di usia tidak produktif, kurangnya pemahaman wisata, spot foto kurang terawat, tata kelola kawasan kurang baik, susahnya regenerasi. Peluang yang dimiliki adalah lokasi yang berada di ujung dan potensi yang ada di bawah bukit. Ancaman yang dimiliki adalah setiap operator memiliki potensi yang sama, pandemi covid-19 dan kurangnya lampu penerangan jalan. Strategi yang digunakan dalam menghadapi pandemi covid-19 yaitu dengan membuat inovasi baru dengan melihat potensi yang ada, meningkatkan promosi melalui short film dengan memanfaatkan media sosial dan memanfaatkan teknologi e-money untuk metode pembayaran yang bertujuan mengurangi kontak fisik antar pengunjung.
Strengthening all aspects of Bukit Panguk tourism is needed to address existing opportunities and challenges to improve ecotourism management. This Study aims to determine aspects of institutional management, regional management and business management in Bukit Panguk, analyze the strengths, weaknesses, opportunities and threats (S.W.O.T) in Bukit Panguk, and make new strategies during the covid-19 pandemi. Metode to collect the data by using interviews, questionnaires, field observations and document studies. The result showed that the management of Bukit Panguk had a legal entity in the form of the Noto Wono Cooperative, describing the management of tourist areas from the aspect of institutional management in terms of legality, history and membership, authority, sanctions programs implemented and assets. Aspects of area management are reviewed from status of the area, governance and boundaries, potential, management activity plans, constraints and conflict in area management, evaluation and accountability reports. Aspects of Business management are reviewed from photo spots, cooperatives, food court, parking area, employee, and visitor perception. The advantages are that members have high spirits, panoramas, and a high sense of kinship. Weaknesses that almost half of the members have in their unproductive age, lack of understanding of tourism, poorly maintained photo spots, poor regional governance, difficulty in regeneration. The opportunities they have are the location at the end and the potential at the bottom of the hill. The threat is that every operator has the same potential, the covid-19 pandemic and the lack of street lightin. The Strategy used in dealing with the covid-19 pandemi is by making new innovations by looking at the existing potential, increasing promotion through short films by utilizing social media and utilizing e-money technology for payment methods that aim to reduce physical contact between visitors
Kata Kunci : Ekowisata, Bukit Panguk, strategi, anggota