Spiritualitas konfusianisme sebagai landasan pengembangan civil society di Indonesia
ROZI, Fahrur, Prof.Dr. H. Lasiyo, MA.,MM
2002 | Tesis | S2 Ilmu FilsafatGelombang reformasi yang bergulir di lndonesia sejak 1998, tak dapat dilepaskan dari semakin kntisnya masyarakat di satu pihak, dan bias dari arogansi serta tidak terkontrolnya kekuasaan era Orde Baru di pihak lain. Saat itu negara sangat kuat, sementara masyarakat sangat lemah. Perkembangan negara berbanding terbalik dengan perkembangan masyarakat. Gerakan reformasi mengupayakan kesejajaran posisi antara negara dan masyarakat. Perkembangan negara dan masyarakat diharapkan berbanding lurus. Negara kuat masyarakat juga kuat. Jadi, gerakan reformasi mengupayakan perbaikan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan orientasi terbentuknya masyarakat baru yang disebut civil society. Civil society mengandaikan sebuah tatanan masyarakat yang bebas, mandiri, dan merdeka dalam posisi yang setara antara sesama warga masyxakat. Civil society juga mengandaikan pluralitas dalam kehdupan. Oleh karena itu, ruang publik yang bebas dan merdeka sebagai ajang transaksi komunikasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar dalam civil society. Dalam kondisi pluralitas masyarakat dan adanya ruang publik yang bebas kemungkinan munculnya konflik selalu terbuka. Justru karena itu, upaya pengembangan civil society memerlukan ruh, spirit, atau candra jiwa yang akan membimbing gerak langkah dan arah sekaligus melandasi civil society menuju kehidupan yang berkeadaban. Candra jiwa itu adalah moralitas Konfusianisme dengan ren atau kemanusiaan sebagai inti ajarannya. Kualitas kehidupan manusia diukur dan sejauh mana ia memiliki dan menerapkan moralitas dalam kehidupannya. Ren sebagai inti ajaran moralitas Konfusianisme memililu derivasi yang beragam, seperti xiao (bhakti), zhi (kebijakan), yi (kebenaran), li (sopan santun), dan lain-lain. Semuanya merupakan praksis dari ren. Secara personal penerapan ajaran ren bertujuan untuk menjadi chun tzu (manusia sempumdinsan kamil), dan secara sosial adalah terciptanya the great harmony dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bemegara, termasuk harmoni dengan alam lingkungannya. Dengan the great harmony yang dilandasi kemanusiaan yang adil dan beradab, maka civil society Indonesia akan tumbuh menjadi civil society yang kuat, mandlri, bebas, dan merdeka menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam wadah negara kesatuan lndonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. hi artinya ajaran ren dengan segala derivasi-nya dapat diingkorporasikan ke &lam Pancasila sebagai pengayaan khazanah budaya bangsa untuk praksis keludupan sehari-hari.
The reformation wave rolling in Indonesia since 1998 can’t be separated from the critical society on one side, and the biases of the arrogance and the uncontrolled authority of the New Order era on the other side. In the New Order period, the state was very strong, yet the people were very weak. The national development was inversely proportional scale to society development. The reformation movement fought for the equality of the state and society. The national development was expected to be on proportional scale to the society development. So that both, the state and people were strong. Therefore, the reformation movement fought for the improvement in the social order aiming at the establishment of a new society called civil society. Civil society dreamed of a free and independent society. Hence, a free and independent public sphere of communication is needed. In the condition of plurality and the existence of the.fiee public sphere, the possibility of conflict is always open. On that regard, the civil society development efforts needed spirit, which will guide every steps and directions of civilized life. In th~tsh esis the morality of Confucianism with ren or humanity as the essence af the tenet is regarded as one of the moral foundation. The life quality of human being is measured by how far he or she had and applied morality in hs or her life. Ren as the essence of Confucian’s morality had many derivations, such as xiao (filial piety), zhi (wisdom), yi (righteousness), Zi (propriety), etc. A11 of them were the practices of ren. Personally the purpose of ren was to become chun tzu (perfect humadinsan kamil), and socially, was to make great harmony in society and the state life, included harmony with natural environment. The great harmony based on humanity, is an just and civilized, the Indonesian civil society will grow to become independent. This means that ren with all its derivations can be incorporated into Pancasila to enrich our national cultural treasure to be practiced in daily lives.
Kata Kunci : Konfusianisme, civil society, Pancasila, harmoni, Confucianism, civil society, Pancasila, the great harmony