Laporkan Masalah

The Psychological Aspects within the Yogyakartan Bedhaya: An Exploratory Study in Dancers of the Royal Court

MATHEUS RAOUL S., Satwika Rahapsari, S.Psi, M.A., R-DMT

2021 | Skripsi | S1 PSIKOLOGI

Dengan perannya sebagai sebuah bentuk kesenian yang hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan Yogyakarta semenjak abad ke-18 hingga awal abad ke-20, Bedhaya tidaklah semata-mata ditakhlikkan guna menghalau rasa jenuh para ningrat. Bedhaya menjadi suatu medium, perantara meditasi batiniah untuk penikmatnya. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman para penari Bedhaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan maksud mengidentifikasi aspek-aspek psikologis yang berperan dalam pembentukan pengalaman tersebut. Kami menggunakan metode fenomenologi kualitatif Moustakas dengan mengombinasikan prosedur movement elicitation. Dari sana, kami mewawancarai 4 orang penari Bedhaya dari berbagai kelompok usia yang dilatih di dalam lingkungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, lantas menganalisis hasil temuan kami menggunakan metode Stevick-Colaizzi-Keen yang dimodifikasi oleh Clark Moustakas. Kami menemukan lima tema yang menjadi intisari dari pengalaman para penari Bedhaya, yang kemudian kami elaborasi lebih lanjut menggunakan konsep-konsep psikologis yang diharapkan mampu menjadi titik tolak penelitian psikologi terkait Bedhaya di masa yang akan datang.

As a classical art form reserved only for the Yogyakartan royalty since the 18th until the 20th century, the Bedhaya does not simply serve as an entertainment for its audiences. It is an epitome of Javanese meditation. This study aims to explore the experiences of court dancers regarding the Bedhaya to ultimately identify what psychological aspects are involved in the formation of their experience. We used Moustakas' qualitative phenomenology as the basis of this whole research, in combination with movement elicitation procedures to condition the participants prior to the data collection process. From there, we interviewed 4 Bedhaya dancers from various generations who were trained within the royal court of Yogyakarta and analyzed the results using Moustakas' modification of the Stevick-Colaizzi-Keen method. The results yielded five themes that are the essence of a Bedhaya dancer's experience, which were then elaborated further using psychological concepts that may serve as a starting point for further psychological research on the subject.

Kata Kunci : Bedhaya, cultural psychology, exploratory study, indigenous psychology, phenomenology, Yogyakartan classical dance, fenomenologi, psikologi budaya, psikologi indigenous, studi eksploratori, tari klasik gaya Yogyakarta

  1. S1-2021-411479-abstract.pdf  
  2. S1-2021-411479-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-411479-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-411479-title.pdf