Kejadian Penyakit, Penanganan, dan Pengendalian Bovine Ephemeral Fever pada Sapi Potong serta Kerbau di Kabupaten Batang Periode 2019 sampai 2020
PUTRI BELLA LARASATI, Ahmad Baidlowi, S.Pt., M.Sc.
2021 | Tugas Akhir | D3 KESEHATAN HEWANBovine Ephemeral Fever (BEF) disebabkan oleh Bovine Ephemeral Fever Virus (BEFV) yang diduga kuat ditransmisikan oleh vektor artropoda seperti Cullicoides sp. dan Anopheles sp. dengan sapi potong dan kerbau sebagai hospes rentannya, diikuti dengan gejala klinis yang merugikan peternak dari segi ekonomis. Tujuan disusunnya Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui kejadian BEF dari tahun 2019 sampai 2020 pada sapi potong dan kerbau di Kabupaten Batang, serta bagaimana peranan dinas terkait dalam mengatasinya. Metode yang dipergunakan saat pengambilan data sekunder adalah wawancara terstruktur dan studi dokumen. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, kejadian penyakit BEF pada sapi potong di tahun 2019 dan 2020 berturut-turut sebanyak 218 ekor dan 108 ekor, sedangkan pada kerbau kejadian peyakit BEF hanya satu ekor per tahun. Bangsa sapi potong yang terjangkit BEF adalah sapi peranakan hasil persilangan, Peranakan Ongole (PO) dan simmental dengan total berturut-turut selama dua tahun, yakni 81%; 1%; dan 18% dari total kasus. Gejala klinis paling umum yang teramati adalah hipertermi (47%), pneumonia (23%), hipokalsemia (11%), nasal discharge (10%), dan pincang (9%) dari total gejala. Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Dislutkanak) Kabupaten Batang sebagai stakeholder terkait memiliki peranan penting dalam penanganan BEF yang meliputi tindakan preventif seperti penyuluhan dan sosialisasi kesehatan hewan kepada peternak, sampai tindakan kuratif pada hospes BEF diiringi pencatatan kejadian penyakit di Kabupaten Batang. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan jika kasus BEF di Kabupaten Batang cenderung menurun pada periode 2019-2020 dengan tindakan pengendalian dan penanganan oleh stakeholder terkait telah cukup baik.
Bovine Ephemeral Fever (BEF) is caused by Bovine Ephemeral Fever Virus (BEFV) and assumed to be transmitted by arthropod vectors such as Cullicoides sp. and Anopheles sp. that beef cattle and buffalo are the susceptible hosts and the clinical signs might cause economic loss impact. This Final Project aims to know the BEF case from 2019 to 2020 in the Batang Regency and the roles of the related local government officials to it. The data collection methods were interviews and document records. The result showed that the total BEF case in beef cattle in 2019 and 2020 are consecutively 218 and 108 cases while the BEF case of buffalo is only one case per year. The most infected cattle breeds by the BEFV were cross-bred cattle, ongole cross-bred, and simmental breed consecutively 81%; 1%; 18% from the total case. The most common clinical signs have been recorded in two years were hyperthermia (48%), pneumonia (23%), hypocalcemia (11%), nasal discharge (10%), and lameness (9%) from total clinical signs. Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Dislutkanak) Batang Regency as a related stakeholder has the main role to overcome the precautionary measure such as the animal health socialization programs to the farmer and also the curative to the infected BEF hosts followed by data recording in Batang Regency. It could be concluded that the reduction of BEF cases during the 2019-2020 period in Batang Regency helped with good precautionary action and treatments by the related stakeholder.
Kata Kunci : Bovine Ephemeral Fever, sapi potong, kerbau, Dislutkanak Kabupaten Batang