Evaluasi Pelaksanaan Deteksi Dini Kejadian Stunting pada Baduta di Kabupaten Kulon Progo
ELISABETH SEKAR CHRISNAMURTI, Mutiara Tirta PLK, MIPH, Ph.D; Dr. Siti Helmyati, DCN., M.Kes
2021 | Skripsi | S1 GIZI KESEHATANLatar Belakang: Pencegahan stunting merupakan salah satu prioritas nasional yang dilaksanakan secara konvergen untuk menangani permasalahan stunting yang masih belum terselesaikan di Indonesia. Deteksi dini kejadian stunting merupakan kunci dari program tersebut dengan diperkenalkannya tikar pertumbuhan sebagai alat deteksi kejadian stunting dan KPM (Kader Pembangunan Manusia) sebagai petugas pelaksana deteksi di lapangan. Terdapat perbedaan kebijakan dalam penggunaan tikar pertumbuhan. Kabupaten Kulon Progo tidak menganjurkan penggunaan tikar pertumbuhan sebagai alat ukur panjang badan, namun dalam pelaksanaannya terdapat variasi dalam penggunannya. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pelaksanaan deteksi dini stunting menggunakan tikar pertumbuhan pada baduta di Kabupaten Kulon Progo. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus pada dua desa lokasi khusus stunting di Kabupaten Kulon Progo. Pengumpulan data dilakuan dengan wawancara mendalam pada pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan deteksi dini stunting, studi dokumen terkait, dan jurnal reflektif peneliti. Responden penelitian dipilih menggunakan metode maximum variation sampling. Hasil: Terdapat ketidakoptimalan penyaluran informasi terkait tikar pertumbuhan, ketidakjelasan informasi yang disampaikan, dan kurangnya dukungan dari pemerintah yang menyebabkan adanya variasi penggunaan tikar pertumbuhan. Penguatan penyaluran informasi terkait penggunaan tikar pertumbuhan sebagai alat deteksi dini stunting dan penguatan komunikasi antar-stakeholder perlu dilakukan. Kesimpulan: Menggunakan pendekatan teori Diffusion of Innovasion, ketidakoptimalan penyaluran informasi tikar pertumbuhan, ketidakjelasan informasi, dan kurangnya dukungan pemerintah menyebabkan tikar pertumbuhan gagal berdifusi.
Background: Stunting prevention is one of national priorities which is implemented convergently to address unresolved stunting problem in Indonesia. Early detection of stunting is the key of the program by introducing child length mat as screening tool and KPM (Kader Pembangunan Manusia/Human Development Cadres) as person in charge of the measurement. There wis different policy in every district about the use of child length mat. Kulon Progo Regency did not recommend the use of child length mat as body length measuring tool, but in practice there were variations of the use of child length mat. Objective: This study aimed to evaluate the implementation of stunting early detection using child length mat on children under two years old in Kulon Progo Regency. Methods: A qualitative approach was conducted through in-depth interview, documents analysis, and journal reflective in two stunting locus villages. Respondents were recruited using purposive, maximum variation sampling. Results: As stunting screening tool, child length mat was not optimally informed to the relevant stakeholders, there were also unclear information delivered, and lack support from the government. These conditions led to variations of its use. Optimization of information channeling about child length mat as screening tool and enhancement of communication between stakeholders were needed. Conclusion: Using Diffusion of Innovation Theory, un-optimal communication channel, unclear information of child length mat, and lack of support from the government caused failed diffusion of child length mat.
Kata Kunci : tikar pertumbuhan, deteksi dini stunting, teori difusi inovasi, saluran komunikasi