Laporkan Masalah

Peran Desa Wisata Dalam Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Sawah di Kabupaten Sleman

FRANSISCA LIVIA P S, Dr. Ir. Dwita Hadi Rahmi, M.A.

2021 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Kabupaten Sleman dikenal sebagai penyangga Kota Yogyakarta dan menjadi wilayah yang mengalami perkembangan maupun pertumbuhan cukup pesat. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan jumlah penduduk serta pertumbuhan sektor non pertanian. Meskipun begitu, Sleman juga ditetapkan sebagai daerah resapan air dengan wilayahnya yang didominasi oleh lahan pertanian berupa sawah. Sawah menjadi penggunaan lahan yang mengalami alih fungsi lahan setiap tahun. Dalam menanggapi masalah tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman melalui RPJMD Kabupaten Sleman Tahun 2016-2021 memberikan terobosan dalam upaya pengendalian alih fungsi lahan salah satunya pengembangan desa wisata. Kabupaten ini telah mengembangkan 53 desa wisata dengan beragam kategori dan daya tarik wisata. Desa Wisata Brayut, Desa Wisata Gabugan, dan Desa Wisata Pancoh menjadi desa wisata kategori mandiri yang memanfaatkan lahan sawah sebagai daya tarik wisata alamnya. Keberhasilan desa wisata dalam pengendalian alih fungsi lahan sawah masih dipertanyakan. Untuk itu, penelitian mengenai peran desa wisata dalam pengendalian alih fungsi lahan pertanian sawah dilakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif kualitatif dengan melakukan deduksi pada teori yang dianggap relevan untuk menjadi variabel penelitian. Metode analisis data yang digunakan terdiri dari dua bagian yaitu metode analisis spasial keruangan dan metode analisis deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data primer dilakukan dengan cara observasi, wawancara semiterstruktur, dan dokumentasi. Sedangkan metode pengumpulan data sekunder dilakukan dengan menghimpun data baik di instansi, internet, maupun data sekunder desa wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan sawah yang ada di ketiga desa wisata telah mengalami perkembangan untuk wisata pertanian yang belum dimanfaatkan secara menyeluruh dan tambahan ekonominya rendah. Selain itu, terdapat pula desa wisata yang melakukan alih fungsi lahan sawah tidak produktif untuk membangun fasilitas penunjang wisata. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengelolaan kegiatan wisata yang ada di ketiga desa wisata belum sepenuhnya berperan dalam pengendalian alih fungsi lahan sawah. Beberapa faktor yang melatarbelakangi perkembangan penggunaan lahan sawah di ketiga desa wisata antara lain faktor ekonomi (perubahan harga komoditas pertanian), persepsi masyarakat terhadap fungsi lahan sawah, kepemilikan lahan sawah, faktor alami (kondisi lahan sawah), faktor ekonomi (industrialisasi), serta faktor demografi. Pemanfaatan pariwisata pada lahan sawah dengan baik dan menyeluruh berpotensi menjaga keberlangsungan lahan sawah apabila didukung dengan strategi dari pemerintah dan partisipasi masyarakat untuk mempertahankan lahan sawah demi citra desa wisata.

Sleman District is known as a buffer zone for Yogyakarta City and it experiences quite rapid development and growth. It is indicated by an increase in population and the growth of the non-agricultural sector. Further, this district is designated as a water catchment area with its territory dominated by agricultural land in the form of rice fields. Rice fields experience land conversion every year. In responding to this problem, the Sleman District Government through its RPJMD 2016- 2021 provides a breakthrough in efforts to control land conversion, one of which is the development of tourism villages. This district has developed 53 tourism villages with various categories and tourist attractions. Brayut Tourism Village, Gabugan Tourism Village, and Pancoh Tourism Village are tourism villages in the independent category that utilize rice fields as their natural tourist attraction. The success of tourism villages in controlling the rice field conversion is still questionable. Therefore, this study focuses on the role of tourism villages in controlling the rice field conversion. This study used a qualitative deductive approach by deducing relevant theories to be research variables. The data were analyzed through the spatial analysis method and the qualitative descriptive method. Primary data were collected through observations, semi-structured interviews, and documentation. While the secondary data were obtained from government agencies, the internet, and secondary data of tourism villages. The results showed that the use of rice fields for agricultural tourism in the three tourism villages had not been fully utilized with a low additional economy. Besides, there are also tourism villages that converse unproductive rice fields to build supporting facilities for tourism. The results of this study indicate that the management of tourism activities in the three tourism villages has not fully played a role in controlling the conversion of rice fields. Factors affecting the development of rice field use in the three tourism villages cover economic factors (changes in agricultural commodity prices), community perceptions of the function of rice fields, ownership of rice fields, natural factors (rice field conditions), economic factors (industrialization), and demographics factor. Good and thorough utilization of rice field tourism has the potential to maintain the sustainability of rice fields with the support from the government and community participation to maintain the rice fields for the sake of the image of a tourism village.

Kata Kunci : Kabupaten Sleman, desa wisata, alih fungsi, sawah, pengendalian

  1. S1-2021-410112-abstract.pdf  
  2. S1-2021-410112-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-410112-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-410112-title.pdf