Performan Pedet Sapi Potong yang Dihasilkan Peternak di Kecamatan Mlati Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta
Wima Zola Adal Pasuri, Prof. Dr. Ir. Endang Baliarti, SU.; Ir. Tri Satya Mastuti Widi. S.Pt., M.P., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
2021 | Skripsi | S1 ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKANMayoritas usaha pembiakan sapi potong dilakukan oleh peternak rakyat dengan tujuan untuk menghasilkan pedet. penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian performan pedet yang dihasilkan peternak. Lokasi penelitian di empat kelompok peternak sapi potong binaan Fakultas Peternakan UGM yaitu Ngudi makmur, Tanam Tuwuh, Wono Ilir-ilir, dan Bayu Andini, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada bulan November-Desember 2020. Sebagai responden adalah 79 peternak sapi potong yang menjadi anggota kelompok, dipilih yang selama tahun 2018-2020 memiliki pedet sudah dijual atau belum. Performan pedet yang diteliti terutama meliputi bangsa dan jenis kelamin. Data lain yang dicatat adalah umur dan harga pedet saat dijual, harga jual, alasan menjual pedet, dan sistem jual beli pedet. Untuk induknya, dikaji umur induk saat penelitian, sudah berapa lama induk dipelihara, berapa kali induk tersebut sudah beranak selama dipelihara, dan bangsa straw pejantan yang dipilih untuk inseminasi buatan (IB), diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner. Data selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif; umur pedet dan harga jual dihitung rata-rata dan standar deviasi; bangsa dan jenis kelamin dihitung persentasenya. Hasil penelitian menunjukkan performan pedet yang dihasilkan peternak, dari sisi bangsa mayoritas keturunan Simmental-Peranakan Ongole (Simpo) dan Peranakan Ongole (PO), jumlah pedet jantan dan betina relatif seimbang. Saat dijual umur pedet bervariasi dari 4 bulan sampai 11 bulan, harga jual bervariasi dari Rp. 7.000.000,00 sampai Rp 19.000.000,00, alasan utama menjual pedet adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta keperluan Pendidikan. Rata-rata umur induk saat penelitian adalah 5,84±2,29 tahun, telah beranak 2,95±1,93 kali, sudah dipelihara selama 4,75±2,51 tahun. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa peternak sapi potong di Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta lebih menyukai menghasilkan pedet Simpo karena harga jualnya lebih tinggi. Memelihara sapi induk untuk menghasilkan pedet masih akan tetap dilakukan peternak karena sangat dibutuhkan sebagai tabungan, serta menimbulkan rasa aman dari segi ekonomi peternak.
The objective of beef cattle breeding carried out by smallholder farmers was mostly to produce calves. This study aims to study the performance of calves produced by smallholder farmers. The research was located in the four farmer groups assisted by the Faculty of Animal Science (Ngudi Makmur,Tanam Tuwuh, Wono Ilir-ilir, and Bayu Andini), District of Mlati, Sleman Regency, Yogyakarta. The research was conducted in November-December 2020. The respondents are 79 beef cattle farmers who had calves (in 2018-2020) which were sold or not. The data recorded were breed , sex, age of the calvesand the price when they were sold, reasons for selling and trading systems. Additional data were age of the cows, duration of rearing, number of calving, and breed of the bulls, used for artificial insemination. The data was obtained through interviews using a questionnaire. The results showed that the performance of the calves produced by the farmer majority was SimmentalOngole grade (Simpo) and Ongole grade (PO); the number of male and female calves was relatively equal. When sold, the age of the calves was varied from 4 to 11 months; the selling price was varied from 7,000,000.00 to19,000,000.00 IDR; the main reasons of selling the calves were economicalneeds. The average of cow's age was 5.84±2.29 years, had calved 2.95±1.93 times, reared for 4.75±2.51 years. The conclusion of this study was that the beef cattle farmers in Mlati District, Sleman Regency, Yogyakarta, preferred to produce Simpo calves because the selling price was higher than PO calves. The farmers will still continue breeding cows to produce calves because they need it for saving money, so they have sense of security in economic needs.
Kata Kunci : Performan pedet sapi potong, Peternak rakyat, Kecamatan Mlati.