Laporkan Masalah

Sejarah Sosial Blindeninstituut Bandung 1901-1941

RIFAI SHODIQ FATHONI, Dr. Agus Suwignyo, M.A.

2021 | Tesis | MAGISTER SEJARAH

Pada masa kolonial, penyandang disabilitas hidup dalam pengucilan sosial akibat stigma negatif dari masyarakat umum. Mereka dipandang sebagai simbol dosa dan orang sakit. Paruh pertama abad ke-20 menjadi periode penting bagi penyandang disabilitas di Hindia-Belanda. Pada periode ini mulai tumbuh kesadaran terhadap hak penyandang disabilitas yang diwujudkan dengan pendirian sekolah-sekolah disabilitas, salah satunya adalah Blindeninstituut. Penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi kehidupan penyandang disabilitas pada masa kolonial khususnya yang berada di Blindeninstituut Bandung. Pokok permasalahan dari penelitian ini adalah mengapa muncul usaha untuk mendidik penyandang tunanetra di Blindeninstituut dan sejauh mana pendidikan itu berdampak pada murid tunanetra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal abad ke-20 merupakan periode munculnya kesadaran terhadap hak penyandang disabilitas. Kesadaran ini tidak muncul dari pemerintah kolonial melainkan swasta. Keikutsertaan swasta dalam pendirian sekolah-sekolah bagi penyandang disabilitas tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kapitalisme abad ke-20. Melalui kegiatan penggalangan dana yang dilakukan Vereeniging tot Verbetering van het lot der Blinden in Ned. Oost-Indie (Perkumpulan untuk Meningkatkan Nasib Penyandang Tunanetra di Hindia-Belanda) dibentuk Blindeninsituut. Di Blindeninsituut Bandung berbagai inovasi sosial diluncurkan untuk mendidik dan melatih penyandang tunanetra. Setelah lulus para penyandang tunanetra diharapkan dapat kembali ke kampung halamannya sebagai manusia mandiri, terdidik dan dapat terintegrasi dengan masyarakat. Kata Kunci: Sejarah sosial, Disabilitas, Penyandang Tunanetra, Blindeninstituut.

During the colonial period, people with disabilities lived in social isolation due to the negative stigma from the general public. They are identified as symbols of sin and the sick. The first half of the 20th century was a significant period for people with disabilities in the Dutch East Indies. During this period, awareness of the rights of people with disabilities began to grow, which was manifested by the establishment of disability schools, one of which was the Blindeninstituut. This study aims to explore the lives of people with disabilities during the colonial period, especially those in the Blindeninstituut Bandung. The main problem of this research is why there is an attempt to educate the blind at the Blindeninstituut and the extent to which this education has an impact on blind students. The results of the study indicate that the early 20th-century was a period of the emergence of awareness of the rights of people with disabilities. This awareness did not arise from the colonial government but from the private sector. Private participation in the establishment of schools for people with disabilities cannot be separated from the development of 20th-century capitalism. Through fundraising activities conducted by Vereeniging tot Verbetering van het lot der Blinden in Ned. Oost-Indie (Society to Improve the Fate of the Blind in the Dutch East Indies), the first disability school was formed. In Blindeninsituut Bandung, various social innovations were launched to educate and train blind people. After graduating, blind people are expected to be able to return to their hometowns as independent, educated and integrated human beings with the community.

Kata Kunci : Sejarah sosial, Disabilitas, Penyandang Tunanetra, Blindeninstituut.

  1. S2-2021-434558-abstract.pdf  
  2. S2-2021-434558-bibliography.pdf  
  3. S2-2021-434558-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2021-434558-title.pdf