Dinamika hubungan pengolahan rotan di Buton Utara Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara
MALIK, Muh. Luthfi, Drs. Purwanto, M.Phil
2002 | Tesis | S2 SosiologiPenerapan paradigm dan strategi kebijakan pengelolaan sumber daya hutan yang berbasis pada Negara (state based forest management) oleh pemerintah Orde Baru, tidak hanya berakibat pada kerusakan lingkungan fisik, tetapi juga membawa implikasi social bagi masyarakat local sekitar hutan di berbagai daerah di Indonesia. Akibat kebijakan itu, masyarakat local, baik secara structural maupun kultral berada dalam posisi yang termarginalisasi. Pilihan paradigm dan strategi yang demikian ini, karena sumber daya hutan dikategorikan sebagai “faktor produksi†yang dapat mendukung “pertumbuhan ekonomi†dalam pembangunan nasional. Pemerintah Orde Baru mengabaikan hak ulayat masyarakat local dalam bentuk pengelolaan hutan yang berbasis pada masyarakat (community based forest management) atau pengelolaan hutan bersama rakyat (cooperative forest management). Namun, dalam implementasi kebijakan redistribusi sumber daya hutan, di satu pihak pemerintah memberikan akses yang sebesar-besarnya kepada para pengusaha hasil hutan untuk melakukan pengelolaan hutan produksi; di pihak lain akses masyasrakat local menjadi “tertutupâ€. Demikian juga halnya dalam pengelolaan rotan di wilayah ini secara intens berlangsung sekitar tahun 1990-an; melibatkan pemerintah daerah, pengusaha hasil hutan, institusi ekonomi desa (KUD), dan komunitas-komunitas masyarakat local sebagai perotan. Dengan keterlibatan banyak komponen tersebut, dalam proses selanjutnya terbangun suatu jaringan sistem pengelolaan dan perdagangan rotan yang dikonstuksikan oleh pengusaha hasil hutan. Oleh karena itu dalam penelitian tesis ini, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, difokuskan pada dinamika hubungan pengolahan rotan di Buton Utara, Kabupaten Muna. Di satu pihak pengusaha hasil hutan sebagai pelaku ekonomi pasar yang mengedapankan rasionalisasi tindakan ekonomi mereka dengan orientasi pada profit oriented. Sementara itu, di pihak lain KUD sebagai institusi social ekonomi desa dan komunitas-komunitas masyarakat local sekitar hutan sebagai pengolah rotan. Selain itu diamati juga bentuk fenomena konflik dan strategi social yang digunakan oleh masyarakat perotan. Setelah dilakukan penelitian lapangan, ditemukan beberapa fakta social. Pertama, dalam proses pengolahan hutan produksi rotan di Buton Utara secara structural terbangun suatu jaringan sistem pengolahan dan perdagangan rotan yang dikonstruksikan oleh pengusaha hasil hutan dengan melibatkan KUD dan komunitas masyarakat local sebagai perotan. Adapun pola hubungan yang terjalin dalam jaringan sistem tersebut adalah berlangsung secara dominative; yang dibingkai oleh hubungan “kemitraan†antara pengusaha berskala nasional, usahawan local, KUD, dan penampung rotan; sedangkan antara penampung rotan yang berperan sebagai tengkulak menjalin hubungan “patron klien†dengan komunitas-komunitas masyarakat perotan. Kedua, karena jaringan sistem tersebut bersifat fungsional, maka latent conflict yan gada, tidak sampai menjadi manifest conflict. Ketiga, masyarakat perotan tidak melakukan resistensi , baik dengan pengusaha hasil hutan maupun dengan pemerintah daerah; bahkan mereka mengembangkan strategi mereka dalam pengolahan dan perdagangan rotan di Buton Utara.
Available in Fulltext
Kata Kunci : Hubungan Sosial, Pengolahan Rotan, Masyarakat dan Pengusaha