Laporkan Masalah

Implementasi Praktik Kolaborasi Interprofesi pada Pelayanan Rujukan Maternal di Rumah Sakit Islam Sultan Agung dan Jejaring Rujukannya (Participatory Action Research pada Ibu Hamil dengan Kelainan Jantung)

SURYANI YULIYANTI, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D; Prof. dr. Adi Utarini, M. Sc., MPH., Ph.D

2021 | Disertasi | DOKTOR ILMU KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

Latar Belakang Penyakit jantung diketahui sebagai salah satu penyebab tidak langsung kematian ibu pada beberapa kota di Indonesia. Tatalaksana kasus tersebut membutuhkan pelayanan multidisiplin, dan praktik kolaborasi interprofesi (IPCP) wajib dilakukan untuk meningkatkan mutu pelayanan pasien. Untuk mendukung implementasi IPCP, Integrated care pathways (ICPs) diperlukan untuk mendefinisikan peran dan tanggung jawab para profesi kesehatan terlibat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai faktor-faktor penghambat dan pendukung IPCP, mengembangkan, menggunakan dan mengevaluasi penggunaan ICPs dalam pelayanan rujukan ibu hamil dengan kelainan jantung. Metode: Penelitian participatory action research terdiri dari 4 tahap (diagnostik, perencanaan, implementasi, dan evaluasi). Data primer didapatkan melalui focus group discussion, indepth interview, konsensus dan observasi. Data sekunder diperoleh melalui review rekam medik dan dokumen rujukan. Data di analisis dengan menggunakan software NVIVO 12. Hasil: Diketahui bahwa ICPs yang telah disusun dalam penelitian ini belum dapat diimplementasikan pada rumah sakit dan jejaring rujukannya, meskipun sebagian besar profesi kesehatan setuju bahwa ICPs penting dan sesuai untuk diterapkan pada ibu hamil dengan kelainan jantung. Pola kolaborasi yang terbentuk masih dalam level konsultatif. Hambatan dalam implementasi tersebut meliputi: faktor individu (karakter, kompetensi dan komunikasi antar profesi), faktor kelompok (keterbatasan tenaga baik secara kuantitas maupun kualitas dan hierarki/senioritas), dan faktor organisasi (leadership, motivasi, kebijakan organisasi, fasilitas pendukung dan aplikasi sistem informasi kesehatan yang kurang user friendly). Meski belum terimplementasi, para partisipan penelitian semakin memahami tentang kolaborasi interprofesi, dan pada beberapa unit yang mulai mengimplementasikan, IPCP meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan. Kesimpulan: ICPs pada pelayanan rujukan untuk ibu dengan kelainan jantung sesuai dan dapat diterima oleh para profesi kesehatan, namun belum feasible untuk diterapkan disebabkan berbagai hambatan terkait faktor individu, kelompok, organisasi dan kebijakan yang belum mendukung.

Background: Heart diseases are increasingly identified as an important indirect cause of maternal mortality in several cities in Indonesia. The management of pregnancy with heart diseases requires a multidisciplinary approach, and interprofessional collaboration practice (IPCP) is critical to improving the quality of patient care. To enable the effective implementation of IPCP, integrated care pathways (ICPs) are needed to define the roles and responsibilities of the health professionals involved. This study aims to examine the obstacles and enabling factors of IPCP, to develop and use ICPs in the implementation of IPCP in health care services for pregnant women with heart diseases. Methods: A participatory action study consisting of four stages (diagnostic, planning, implementation, and evaluation), the primary data collection will employ consensus, observations, focus group discussions, and in-depth interviews throughout the four stages, while secondary data from referral documents and medical records will be collected mainly during the diagnostic and evaluation stages. All qualitative data will be analysed thematically by two coders using NVIVO 12 software. Result: Despite most of the health professionals agree that IPCP is important and appropriate on women with cardiac disease management, the ICPs can not be implemented in this study. The collaborative pattern is still at the consultative level. The barriers of the implementation are individual factors (character, medical skills competence and communication), group factors (limited personnel both in quantity and quality and hierarchy), and organizational factors (leadership, motivation, organizational policies, support facilities, and system applications/less user-friendly health information system). Although it has not been implemented, the participants are increasingly understanding about interprofessional collaboration, and in some units that have started implementing IPCP, it increased patient satisfaction. Conclusion: ICPs in referral services for mothers with heart diseases are appropriate and acceptable by health professionals, but are not feasible yet to implement due to various obstacles related to individual, group, organizational, and policy factors that are not yet supported.

Kata Kunci : Interprofessional collaborative practice, pregnancy with heart disease, participatory action research, integrated care pathways

  1. S3-2021-405283-abstract.pdf  
  2. S3-2021-405283-bibliography.pdf  
  3. S3-2021-405283-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2021-405283-title.pdf