Petani dan kristenisasi :: Konvergensi agama masyarakat petani perkebunan di Karangjoso Bagelen 1870-1900
ITTIHADIYAH, Himayatul, Prof.Dr. Djoko Suryo
2002 | Tesis | S2 SejarahGeneralisasi dalam sejarah telah melahirkan persepsi yang keliru terhadap kasus koversi agama yang terjadi di Jawa Tengah bagian Selatan. C. Guillot, dalam disertasinya yang berjudul Kyai Sadrach; Riwayat Kristenisasi di Jawa pada abad XIX’, terj emahan. dari “t Iflaire Sadrach; Un Esai de Christianisation a Java au XIXe Siecle, secara implisit membenarkan kembali pernyataan Adriaanse yang pernah dikemukakan dalam “Sadiach’s Kring†bahwa satutuan a alasan terjadinya konversi ke Agama Kristen di Jawa Tengah adalah karena masyarakat petani menganalogikan Yesus Kristus sebagai Ratu Adil. Pene!itim ini hermaksud menguji kembali kebenaran tesis tersebut. “Petani dan Kristenisasi; Konversi Agama rnasyarakat Petani Karangjoso 1870-1900â€, di samping untuk tujuan di atas, selebihnya tesis ini merupakan sebuah upaya untuk merekonstruksi ulang sebuah proses sejarah keagamaan masyarakat petani di Karangjoso dan sekitarnya pada masa diterapkannya ekonomi liberal. Karangjoso sendiri pada saat itu merupakan sebuah desa kecil (pedukuhan) yang berada di dalam wilayah distrik Pituruh, Regentschap Kutoqo, karesidenan Bagelen, dalam struktur administratif pemerintahan kolonial semenjak masa Tanam-Paksa hingga masa Ekonomi Liberal. Meskipun di sini disebutkan Petani Karangjoso, namun tidak dimaksudkan hanya untuk menunjuk petani yang tinggal di Karangjoso saja, tetapi juga untuk menyebut semua petani yang tinggal di sekitar Karangjoso, karena dalam ha1 ini Karangjoso adalah pusat kristenisasi dan pusat aktifitas keagamaan mereka. Mereka adalah sebuah komunitas kecil dengan karakteristik gaya hidup yang bas, sesuatu yang dapat disebut sebagai renik dalam sejarah Vine history), pemilik spiritualitas baru, yang mereka sebut sebagai agama “Kristen Mardiko †agama suci dari Karangioso. Penelitian ini dilakukan dengan menggabungkan dua metode, di samping menggunakan metode pengumpulan sumber dan data tulisan sebagaimana yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya, penulis juga mengguakan metode sejarah lisan untuk melengkapi data yang dibutuhkan. Penggabungan dua metode ini dimaksudkan untuk melihat secara jelas mengenai peristiwa konversi agama tersebut, jika dilihat dari perspektif masyarakat di Karangjoso dan sekitarnya yang masih berkembang hingga sekarang. Untuk menguji kebenaran thesis ini penulis juga menggabungkan antara teori kebudayaan dan teori keagamaan, karena dalam kasus konversi agama ini di samping diperlukan teori untuk menganalisa proses spiritual keagamaan, juga diperlukan teori yang dapat menjelaskan mengenai proses budaya. Bagaimanapun juga kasus konversi agama bagi masyarakat petani Karangjoso ini, di samping merupakan proses spiritual keagamaan juga merupakan proses yang sangat kental sekali dilatarbelakangi oleh proses tukarmenukar atau pinjam-meminjam kebudayaan ( akulturasi dan inovasi. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kasus konversi agama masyarakat petani Karangjoso dalam ha1 ini merupakan hail dari proses spiritual dan proses budaya petani Jawa yang khas rnilik masyarakat petani Karangjoso dan sekitamya, yang tidak dapat disamakan begitu saja dengan kasus-kasus konversi agama masyarakat petani yang lain, meskipun sama-sama masyarakat petani Jawa sekalipun, baik di Jawa Tengah pada umumnya ataupun yang terj adi di Jawa Timur, sebagaimana yang yang digeneralisasikan oleh Guillot sejauh ini.
The generalization in historiography has lead to misperception about the religious conversion in the South of Central Java. C. Guillot in the†Kyai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa Abad XIX, translated from “LYfaire Sadrach; Un Esai de Chritianisation a Java au XIXe Siecle†justified something implicit about Adriaanse’s explanation in the “Sadrach ’s Krzng†that ones reason of conversion to Christianity in Central Java was the basic assumption of peasant that Jesus was the their messiah. This research is trying to examine the credibility about the thesis. Peasant and Christianisation: Religious Conversion of Peasant in Karangjoso 1870-1900, more than that words, the title is mean trying to construct the historical process about religion and peasant in Karangjoso on the liberal economic period. Karangjoso itself, at that time, was the countrified; Smallest administrative unit that occupied a certain place on region under the district of Pituruh ( Pitoeroe), the village of regency (regentschap) Kutoarjo (KoetoArdjo); Province of Bagelen; the residency of the colonial Government Structure, from the cultivation system until the liberal economic, period. Although here mentioned “Karangjoso Peasant7’, that’s not mean talking about the only of peasant who lived in Karangjoso, but also to talk about peasant who lived in and around the countrified, because the Karanaoso was the center of Chnstianization and their religious activity. They were the one community with the special lifestyle characteristics, something what’s we can give a name it a small or fine history, the people whose the new spiritual, what’s something they called “Kristen Mardiko â€, a holy religion fiom Karangjoso. This research have been combined into two methods, beside had been used gathering the written sources and data as researcher have done before, this research also had been using the interview method to explore closer about this case, if we look fiom the contemporary Karangjoso Peasant’s perspectives, right now. To examine the thesis’s credibility, in here also have been combined into two theories about culture and religion, because in this case, beside we needed the theory to explore the cultural process we also needed the religious theory to explain the spiritual process, because the religious conversion in Karangjoso was the process of acculturation and innovation. The result of this research have been summarized that the religious conversion of Karangjoso Peasant was the spiritual and cultural process about Java Peasant, the specified characteristic of people of Karangjoso and around the village, the different process from another religious conversion, even though the same of Java Peasant case, neither in the whole of Central Java, nor in the East as Guillot generalized so far.
Kata Kunci : Sejarah Indonesia,Kristenisasi,Petani Perkebunan,Bagelen 1870,1900