PROGRAM PEJUANG SIGAP SEJAHTERA : Analisis Mengenai Proses Pemberdayaan Pada Program Kemitraan Multi-Stakeholders dalam Upaya Membangun Kemandirian di Kabupaten Berau
DZIKRI ASYKARULLAH, DR HEMPRI SUYATNA
2021 | Tesis | MAGISTER PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANDampak positif dari diberikannya ruang kepada Pemerintah Desa adalah tumbuhnya inovasi-inovasi baru dari desa dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat serta pengembangan potensi desa. Namun realitanya tidak semua desa dapat tumbuh dengan optimal pasca disahkannya kebijakan terkait dana desa, sehingga kemudian di beberapa wilayah pemerintah daerah mengambil kebijakan dengan memberikan program pendampingan dan pemberdayaan masyarakat desa untuk membantu desa dalam beradaptasi dengan sistem tata kelola dan pengembangan desa yang baru, termasuk salah satunya program Pejuang SIGAP Sejahtera atau biasa disebut PSS di Kabupaten Berau, Pemerintah Kabupaten Berau membentuk Program PSS sebagai upaya untuk pencapaian visi-misi Kabupaten Berau dalam rangka peningkatan kemampuan ekonomi serta menempatkan para pemuda asli daerah menjadi bagian penting dari pembangunan kampung. Program pendampingan dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh PSS di Kabupaten Berau mengkolaborasikan Empat Stakeholders sekaligus yaitu Pemerintah Daerah, Non Government Organization (NGO), Perusahaan dan Unsur Akademik yang diwakili oleh Universitas Gadjah Mada, peneliti mencoba membongkar proses pemberdayaan dan pola kemitraan antar stakeholders yang berjalan dalam pelaksanaan program pendampingan masyarakat PSS agar kemudian dapat di evaluasi untuk menghasilkan sebuah skema pendampingan desa yang mampu mengakselerasi pembangunan dan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan mencakup observasi. Dokumentasi serta wawancara mendalam terhadap informan yang mewakili masing-masing lembaga yang bermitra serta pelaksana program Pejuang SIGAP Sejahtera. Melalui pendekatan tersebut peneliti berupaya melihat dinamika serta proses pemberdayaan yang berjalan dalam PSS di Kabupaten Berau khususnya Kampung Labanan Makmur, peneliti mencoba melihat perubahan sistemik bertahap serta dampak yang diberikan sepanjang terlaksananya Program PSS. Melalui penelitian ini diketahui bahwa dalam dua tahun pelaksanaan program stakeholder yang bermitra dalam Program PSS masih mencari mekanisme yang baik untuk bersama membangun Kabupaten Berau, sehingga kemudian peneliti mendapati bahwa dalam proses pemberdayaan program masyarakat masih kurang dilibatkan, selain itu fasilitator kampung yang merupakan pelaksana program PSS masih terlalu fokus pada kerja-kerja administratif ketimbang mendampingi masyarakat untuk berkembang, Padahal berdasarkan tujuan awal terlaksananya program PSS fasilitator adalah para pemuda yang diharapkan mampu menjadi pemimpin kampung di masa mendatang.
The positive impact of the space given to the Village Government is the growth of new innovations from the village in the development and empowerment of the community as well as the development of village potential. But the reality is that not all villages can grow optimally after the ratification of policies related to village funds, so that later in some areas the local government takes policy by providing mentoring and empowerment programs for village communities to help villages in adapting to the new village governance and development system, including one of the SIGAP Sejahtera Fighters program or commonly called PSS in Berau District, the Berau District Government established the PSS Program as an effort to achieve the vision-mission of Berau Regency in order to improve economic capabilities and place indigenous youths of the region became an important part of the development of the village. Community mentoring and empowerment program conducted by PSS in Berau District collaborates four stakeholders at once, namely Local Government, Non Government Organization (NGO), Company and Academic Elements represented by Gadjah Mada University, researchers try to dismantle the empowerment process and partnership patterns between stakeholders that run in the implementation of community mentoring programs pss so that it can then be evaluated to produce a village mentoring scheme that is able to accelerate development and sustainability. This research was conducted using qualitative method with descriptive analysis. The data collection techniques used include observation. Documentation and in-depth interviews of informants representing each partnering institution as well as implementers of the Pejuang SIGAP Sejahtera program. Through this approach, researchers try to see the dynamics and empowerment process that runs in PSS in Berau District, especially Kampung Labanan Makmur, researchers try to see the gradual systemic changes and impacts given throughout the implementation of the PSS Program. Through this research, it is known that in two years the implementation of stakeholder programs that partner in the PSS Program is still looking for a good mechanism to jointly build Berau Regency, so that then researchers find that in the process of empowering community programs are still less involved, in addition village facilitators who are implementing the PSS program are still too focused on administrative work rather than accompanying the community to develop, whereas based on the initial purpose of the implementation of the PSS program the facilitators are the youth who are expected to be village leaders in the future.
Kata Kunci : Kemitraan, Pendampingan Desa, Pemberdayaan Masyarakat