Laporkan Masalah

INTERSUBJEKTIVITAS DALAM WACANA POLITIK: IDENTITAS NASIONAL PRANCIS DALAM KAMPANYE PRESIDEN

APRILLIA FIRMONASARI, Prof. Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., DEA.

2021 | Disertasi | DOKTOR ILMU-ILMU HUMANIORA

Perdebatan mengenai konsep identitas nasional muncul dalam kampanye presiden tahun 2017 karena adanya permasalahan sosial politik akibat peningkatan jumlah imigran di Prancis. Penelitian ini berangkat dari asumsi dasar bahwa konsep identitas nasional dapat diekspresikan oleh para kandidat presiden dan khalayak dengan cara yang sama ataupun cara yang berbeda. Perbedaan ataupun persamaan tersebut terkait dengan subjektivitas yang dibangun oleh para kandidat presiden, yaitu Emmanuel Macron dan Marine Le Pen. Dalam hubungan intersubjektif ini, mereka menggunakan bentuk-bentuk lingual dan ekspresi linguistik tertentu yang bertujuan untuk mempengaruhi dan meyakinkan khalayak sesuai dengan visi dan ideologi yang dianut partai yang menaunginya. Penelitian ini menggunakan pendekatan interaksionis dan kritis dari Van Dijk. Analisis penelitian ini terbagi menjadi dua bagian analisis wacana pidato kandidat presiden dan analisis wacana khalayak di media Prancis. Data wacana pidato diambil pada masa kampanye presiden Emmanuel Macron dan Marine Le Pen tahun 2016-2017, dan data artikel di media massa dan media sosial (Facebook dan Twitter). Korpus yang diperoleh kemudian di analisis dengan menggunakan skema ideologis, tuturan, referensial dan argumentasi, untuk mendapatkan bentuk dan ekspresi linguistik. Penelitian ini diharapkan dapat melihat relevansi penggunaan bahasa dan wacana politik serta strategi konstruksi wacana dalam konteks sosial politik.

The debate about concept of national identity emerged because of the socio-political problems due to the increasing number of immigrants in France. This research departs from the basic assumption that the concept of national identity can be expressed by both the presidential candidates and the public in either similar or different ways. The differences or similarities related to the subjectivity built by two candidates, Emmanuel Macron and Marine Le Pen. In this intersubjective relationship, they used certain lingual forms and linguistic expressions that were aimed to influence and convince the public. These forms and expressions were selected, so that they were in accordance with the vision and ideology of the parties, to which the candidates belonged. This study used an interactionist and critical approach from Van Dijk. The analysis of this research is divided into two parts, a discourse analysis on the speeches of the presidential candidates and a public discourse analysis on French media. The data on the speech discourses were the presidential speeches of Emmanuel Macron and Marine Le Pen made during their campaigns from 2016 to 2017. The data on the public discourses were taken from articles in mass media and social media (Facebook and Twitter) published during the same period. The corpus built from the data were then analyzed using ideological, utterance, referential and argumentative schemes to obtain the linguistic forms and expressions. This research was expected to be able to demonstrate the relevance between language use and political discourse as well as discourse construction strategies in a socio-political context.

Kata Kunci : wacana politik, kampanye presiden Prancis, intersubjektif, identitas nasional, bentuk lingual dan ekspresi lingual